Forward from: Majalah Kafilul Yatama
SERIAL KESUNGGUHAN SALAF DALAM MENUNTUT ILMU
Muhammad bin Thahir al-Maqdisi Rahimahullah bercerita: “Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al-Haddad Rahimahullah. Bekal saya semakin menipis hingga yang tersisa hanya satu dirham saja. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis. Saya bingung, kalau saya belikan roti, maka saya tidak ada (uang untuk) beli kertas untuk menulis. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut sampai tiga hari dan selama itu pula saya tidak merasakan makan sama sekali.
Pada pagi hari keempat, dalam hati, saya berkata: “Kalau saya punya kertas, saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar.” Saya letakan dirham itu dimulut dan mengeluarkan untuk membeli roti. Tanpa terasa saya telah menelan dirham tersebut, saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya: “Apa yang membuat anda tertawa?” Saya menjawab: “Sesuatu yang baik.” Beliau meminta saya untuk menceritakannya, tetapi saya menolak. Ia terus menerus memaksa sehingga saya ceritakan permasalahannya. Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.”
📚 Tadzkiratul Huffazh (4/1246 dengan saduran), Adz-Dzahabi
Beliau juga bercerita: “Saya pernah kencing darah dua kali saat belajar hadits, sekali di Baghdad dan sekali lagi di Mekkah. Karena saya berjalan tanpa alas kaki di Baghdad dan di Mekkah di bawah terik sinar matahari yang menyengat, sehingga saya mengalami hal tersebut. Saya tidak pernah naik kendaraan sama sekali ketika belajar hadits kecuali sekali saja dan saya membawa kitab di pundak saya.”
📚 Tadzkiratul Huffazh (4/124), Adz-Dzahabi
Muhammad bin Thahir al-Maqdisi Rahimahullah bercerita: “Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al-Haddad Rahimahullah. Bekal saya semakin menipis hingga yang tersisa hanya satu dirham saja. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis. Saya bingung, kalau saya belikan roti, maka saya tidak ada (uang untuk) beli kertas untuk menulis. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut sampai tiga hari dan selama itu pula saya tidak merasakan makan sama sekali.
Pada pagi hari keempat, dalam hati, saya berkata: “Kalau saya punya kertas, saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar.” Saya letakan dirham itu dimulut dan mengeluarkan untuk membeli roti. Tanpa terasa saya telah menelan dirham tersebut, saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya: “Apa yang membuat anda tertawa?” Saya menjawab: “Sesuatu yang baik.” Beliau meminta saya untuk menceritakannya, tetapi saya menolak. Ia terus menerus memaksa sehingga saya ceritakan permasalahannya. Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.”
📚 Tadzkiratul Huffazh (4/1246 dengan saduran), Adz-Dzahabi
Beliau juga bercerita: “Saya pernah kencing darah dua kali saat belajar hadits, sekali di Baghdad dan sekali lagi di Mekkah. Karena saya berjalan tanpa alas kaki di Baghdad dan di Mekkah di bawah terik sinar matahari yang menyengat, sehingga saya mengalami hal tersebut. Saya tidak pernah naik kendaraan sama sekali ketika belajar hadits kecuali sekali saja dan saya membawa kitab di pundak saya.”
📚 Tadzkiratul Huffazh (4/124), Adz-Dzahabi