PERNYATAAN BELASUNGKAWA.
Kami, segenap pengurus BasReng, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara Affan Kurniawan, 21 Tahun. Hari ini, namanya tak lagi sekadar nama. Affan telah diagungkan dalam setiap nafas perjuangan. Ia bukan hanya seorang anak bangsa yang sedang bekerja mencari rezeki, melainkan kini menjadi simbol luka dan perlawanan. Dari jalanan yang berdebu hingga bisikan hati rakyat, namanya bergema sebagai tanda bahwa ada harga yang dibayar begitu mahal untuk mempertahankan martabat dan kehidupan.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami hanya bisa menitipkan doa agar diberi kekuatan menghadapi duka yang tak terperi. Namun percayalah, Affan tidak pergi sia-sia. Kehadirannya telah menjelma menjadi nyala yang tak akan padam, mengingatkan kita semua bahwa rakyat seharusnya dilindungi, bukan dikorbankan.
Hari ini kita berduka, tapi dalam duka itu lahir tekad: bahwa demokrasi tak boleh terus dikubur bersama darah rakyat. Kami juga turut berbelasungkawa atas kematian demokrasi di Indonesia, saat suara rakyat dan keselamatan warga tidak lagi dijunjung, dan aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman. Tragedi ini bukan sekadar luka pribadi, melainkan luka bangsa.
Semoga kepergian Affan menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya akan hidup bila negara berpihak pada rakyatnya. Dan semoga kita tidak pernah berhenti bersuara hingga keadilan benar-benar ditegakkan.
Kami, segenap pengurus BasReng, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara Affan Kurniawan, 21 Tahun. Hari ini, namanya tak lagi sekadar nama. Affan telah diagungkan dalam setiap nafas perjuangan. Ia bukan hanya seorang anak bangsa yang sedang bekerja mencari rezeki, melainkan kini menjadi simbol luka dan perlawanan. Dari jalanan yang berdebu hingga bisikan hati rakyat, namanya bergema sebagai tanda bahwa ada harga yang dibayar begitu mahal untuk mempertahankan martabat dan kehidupan.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, kami hanya bisa menitipkan doa agar diberi kekuatan menghadapi duka yang tak terperi. Namun percayalah, Affan tidak pergi sia-sia. Kehadirannya telah menjelma menjadi nyala yang tak akan padam, mengingatkan kita semua bahwa rakyat seharusnya dilindungi, bukan dikorbankan.
Hari ini kita berduka, tapi dalam duka itu lahir tekad: bahwa demokrasi tak boleh terus dikubur bersama darah rakyat. Kami juga turut berbelasungkawa atas kematian demokrasi di Indonesia, saat suara rakyat dan keselamatan warga tidak lagi dijunjung, dan aparat yang seharusnya melindungi justru menjadi ancaman. Tragedi ini bukan sekadar luka pribadi, melainkan luka bangsa.
Semoga kepergian Affan menjadi pengingat bahwa demokrasi sejati hanya akan hidup bila negara berpihak pada rakyatnya. Dan semoga kita tidak pernah berhenti bersuara hingga keadilan benar-benar ditegakkan.