Merah menyala terang, ranum manis berlapis gincu. Harum menguar tubuh berbalut wewangian, segar tercium dari radius 100 meter. "Siap menjadi pelacur?"
Masa penjajahan, kami sebagai perempuan pribumi harus siap menjadi gundik dan lacur para Tuan Belanda. Kami harus siap memajang tubuh kami untuk di sentuh dan di setubuhi tanpa hubungan, kami harus siap patuh tanpa perlawanan menjadi pekerja seks komersil. Kami harus siap menjadi pendamping kedua, kami harus siap menanggung beban sebagai gundik tanpa mendapat kejelasan dari para Tuan Belanda. Kami perempuan pribumi terkadang di anggap terlalu lemah lembut dan penurut, padahal kami hanya takut, kami jadi santapan para ajak-ajak.
"Cantik itu luka, Rukmini." Rukmini terdiam. Tubuhnya hanya terbalut kain yang di lilit, mereka bilang, kita hanya perempuan pribumi rendahan, pilihan kita hanya ada dua. Patuh atau dimakan ajak-ajak milik Tuan Belanda.
Masa penjajahan, kami sebagai perempuan pribumi harus siap menjadi gundik dan lacur para Tuan Belanda. Kami harus siap memajang tubuh kami untuk di sentuh dan di setubuhi tanpa hubungan, kami harus siap patuh tanpa perlawanan menjadi pekerja seks komersil. Kami harus siap menjadi pendamping kedua, kami harus siap menanggung beban sebagai gundik tanpa mendapat kejelasan dari para Tuan Belanda. Kami perempuan pribumi terkadang di anggap terlalu lemah lembut dan penurut, padahal kami hanya takut, kami jadi santapan para ajak-ajak.
"Cantik itu luka, Rukmini." Rukmini terdiam. Tubuhnya hanya terbalut kain yang di lilit, mereka bilang, kita hanya perempuan pribumi rendahan, pilihan kita hanya ada dua. Patuh atau dimakan ajak-ajak milik Tuan Belanda.