ㅤ Pak Sapardi, penggalan puisi milikmu berujar di bait terakhir, "Mencintaimu harus menjelma aku." Jika mencintaimu itu artinya kamu harus menjelma menjadi aku, lantas untuk mencintaiku, apakah aku harus menjelma menjadi kamu?
ㅤ Aku kembali melukai kertas dengan noda hitam di atasnya, aku dengar, malam mulai meraung-raung karena sunyi terlalu lekat dengannya. Bintang yang semesta tabur di atas langit-pun, merasa enggan untuk berkomentar karena polusi cahaya menghalangi sinar mereka.
ㅤ Saat cabang pohon lain mulai tumbuh dan merambat, semakin cekatan aku melukai kertas yang aku timpa dengan berat tanganku di atasnya. Bagaimana ini? Bagaimana jadinya jika puisi tanpa hadirnya dirimu? Aku terdiam, tidak bermonolog, tidak juga menulis epilog, tapi aku merasa kian tertohok.
ㅤ Astaga! Lancang sekali diriku ini. Membawa bintang, bulan dan malam sebagai gambaran kasar untuk melukai perasaan sang kertas. Sungguh. Sehabis ini, dikutuknya diriku menjadi pena sang penyair. Aku di genggam erat, dibawa berkeliling, dipaksa mengeluarkan seluruh tinta hitam ku untuk menciptakan indahnya puisi tanpa diriku di dalamnya.
ㅤ Hei! Begitu teganya kamu memakai diriku sembarangan! Haruskah aku kembali mengutuk dirimu menjadi cinta yang abadi untukku? Oh, tidak, jangan. Jika iya, itu artinya aku berdusta. Lantas, haruskah aku mengutuk diriku sendiri? Sebagai pena tak tahu diri yang mengutuk tuannya, berharap menjadi objek dari puisi indahnya kali ini.
ㅤ "Baginda! Hamba serahkan seluruh alam semesta dan seisinya untuk engkau jadikan makna dalam rangkaian majas indah milikmu! Selayaknya aku yang rela menjadi pena agar aku merasakan besarnya cintamu pada puisi." Pena malang yang telah habis jiwanya itu, kini meringkuk dalam pelukan buku kuno bertulis, Sajak Sajak Kecil Tentang Cinta.
ㅤ Setidaknya, ia telah menjelma menjadi pena untuk mencintai coretan kasarnya yang melukai kertas.
ㅤ Aku kembali melukai kertas dengan noda hitam di atasnya, aku dengar, malam mulai meraung-raung karena sunyi terlalu lekat dengannya. Bintang yang semesta tabur di atas langit-pun, merasa enggan untuk berkomentar karena polusi cahaya menghalangi sinar mereka.
ㅤ Saat cabang pohon lain mulai tumbuh dan merambat, semakin cekatan aku melukai kertas yang aku timpa dengan berat tanganku di atasnya. Bagaimana ini? Bagaimana jadinya jika puisi tanpa hadirnya dirimu? Aku terdiam, tidak bermonolog, tidak juga menulis epilog, tapi aku merasa kian tertohok.
ㅤ Astaga! Lancang sekali diriku ini. Membawa bintang, bulan dan malam sebagai gambaran kasar untuk melukai perasaan sang kertas. Sungguh. Sehabis ini, dikutuknya diriku menjadi pena sang penyair. Aku di genggam erat, dibawa berkeliling, dipaksa mengeluarkan seluruh tinta hitam ku untuk menciptakan indahnya puisi tanpa diriku di dalamnya.
ㅤ Hei! Begitu teganya kamu memakai diriku sembarangan! Haruskah aku kembali mengutuk dirimu menjadi cinta yang abadi untukku? Oh, tidak, jangan. Jika iya, itu artinya aku berdusta. Lantas, haruskah aku mengutuk diriku sendiri? Sebagai pena tak tahu diri yang mengutuk tuannya, berharap menjadi objek dari puisi indahnya kali ini.
ㅤ "Baginda! Hamba serahkan seluruh alam semesta dan seisinya untuk engkau jadikan makna dalam rangkaian majas indah milikmu! Selayaknya aku yang rela menjadi pena agar aku merasakan besarnya cintamu pada puisi." Pena malang yang telah habis jiwanya itu, kini meringkuk dalam pelukan buku kuno bertulis, Sajak Sajak Kecil Tentang Cinta.
ㅤ Setidaknya, ia telah menjelma menjadi pena untuk mencintai coretan kasarnya yang melukai kertas.