π Gevardian : 4. Mayjen S. Parman
S. Parman lahir tanggal 4 Agustus 1918, di Wonosobo, Jawa Tengah. Ayahnya merupakan pedagang yang lumayan sukses di Wonosobo. Namanya Kromodiharjo.
sebanyak 20-an tentara, menjelang subuh 1 Oktober 1965, mendatangi rumah Siswondo Parman di Jalan Serang, Menteng, Jakarta Pusat.
S. Parman yang semalaman melekan bareng sang istri, segera keluar rumah begitu mendengar suara ribut. Semula ia menyangka ada perampokan di rumah tetangga. Belakangan ia baru tahu bahwa kegaduhan berasal dari beberapa tentara anggota Resimen Cakrabirawa yang datang menemuinya.
Kepada Siswondo Parman, para tentara itu bilang menerima perintah dari Presiden untuk menjemput sang jenderal. Tanpa menunjukkan sikap curiga, S. Parman dengan tenang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengenakan seragam kemiliteran. Dia pun dibuntuti beberapa orang tentara.
Hingga diangkut kendaraan yang menuju Lubang Buaya, Siswondo Parman tidak memberikan perlawanan. Meskipun demikian, ia tampaknya betul-betul sadar sedang dalam bahaya. Sebelum pergi, S. Parman berbisik pada sang istri, Sumirahayu, agar segera menelepon Ahmad Yani. Sayangnya, para tentara yang membawa Siswondo Parman juga merampas pesawat telepon di kediamannya
S. Parman lahir tanggal 4 Agustus 1918, di Wonosobo, Jawa Tengah. Ayahnya merupakan pedagang yang lumayan sukses di Wonosobo. Namanya Kromodiharjo.
sebanyak 20-an tentara, menjelang subuh 1 Oktober 1965, mendatangi rumah Siswondo Parman di Jalan Serang, Menteng, Jakarta Pusat.
S. Parman yang semalaman melekan bareng sang istri, segera keluar rumah begitu mendengar suara ribut. Semula ia menyangka ada perampokan di rumah tetangga. Belakangan ia baru tahu bahwa kegaduhan berasal dari beberapa tentara anggota Resimen Cakrabirawa yang datang menemuinya.
Kepada Siswondo Parman, para tentara itu bilang menerima perintah dari Presiden untuk menjemput sang jenderal. Tanpa menunjukkan sikap curiga, S. Parman dengan tenang kembali masuk ke dalam rumah untuk mengenakan seragam kemiliteran. Dia pun dibuntuti beberapa orang tentara.
Hingga diangkut kendaraan yang menuju Lubang Buaya, Siswondo Parman tidak memberikan perlawanan. Meskipun demikian, ia tampaknya betul-betul sadar sedang dalam bahaya. Sebelum pergi, S. Parman berbisik pada sang istri, Sumirahayu, agar segera menelepon Ahmad Yani. Sayangnya, para tentara yang membawa Siswondo Parman juga merampas pesawat telepon di kediamannya