Video is unavailable for watching
Show in Telegram
──꯭꯭─ ★ 🎙₊ ⊹ Jocéy : Masuk ke story pertama, yaitu…
𝐒𝐇𝐈𝐅𝐓 𝐓𝐄𝐑𝐀𝐊𝐇𝐈𝐑 𝐃𝐈 𝐏𝐑𝐎𝐘𝐄𝐊 𝐓𝐎𝐋 𝐊𝐌 𝟒𝟕
Malam itu sepi banget. Angin cuma lewat pelan, tapi cukup bikin seng-seng proyek berisik kayak ada yang ngetok pelan. Arga dapet shift malam lagi—shift yang katanya paling “nggak enak”.
Proyek tol KM 47 itu udah terkenal angker di kalangan pekerja. Bukan karena kecelakaan biasa… tapi karena kabar yang beredar: Proyek ini butuh tumbal.
“Udah ada tiga orang ilang,” kata Mandor dulu, setengah bercanda.
“Tapi tiap ada yang ilang… pembangunan selalu lancar lagi.”
Arga nggak terlalu percaya. Sampai malam itu.
Jam menunjukkan 02.17. Lampu proyek tiba-tiba redup, genset seperti kehabisan tenaga. Arga yang lagi ngecek area cor beton ngerasa… ada yang aneh. Sunyi yang tadi biasa, berubah jadi berat.
Kayak… ada yang lagi ngeliatin.
“Pak…?” Arga manggil, berharap ada pekerja lain. Tapi nggak ada jawaban.
Tiba-tiba, dari ujung jalur yang belum selesai, dia lihat sosok berdiri. Siluet hitam. Diam. Tingginya nggak wajar.
Arga nyenter ke arah itu.
Nggak ada siapa-siapa.
Tapi suara langkah… mulai terdengar. Bukan dari depan. Dari belakang.
Tap… tap… tap…
Arga langsung nengok. Kosong.
Napasnya mulai berat. Dia mundur pelan. Tapi langkah itu makin dekat, makin cepat—padahal nggak ada siapa pun.
Sampai akhirnya…
Ada bisikan tepat di telinganya.
“Gantian…”
Arga membeku.
Tangan dingin tiba-tiba nyentuh pundaknya. Berat. Kayak narik.
Dia berusaha lari, tapi kakinya nggak bisa digerakin. Badannya seperti ditahan sesuatu dari bawah tanah.
Dari permukaan beton yang belum kering… muncul tangan-tangan hitam. Banyak. Meraih. Menarik.
Arga teriak sekuat tenaga.
“TOLOOONG—!”
Tapi suara itu tenggelam, bersama tubuhnya yang perlahan ditarik masuk ke dalam beton basah.
Besok paginya, proyek berjalan normal.
Mandor cuma bilang singkat,
“Arga resign mendadak.”
Dan anehnya…
Hari itu, pembangunan tol KM 47 kembali lancar tanpa hambatan.