"Gara-gara lu sih!"
Atsumu menggerutu sembari menatap Osamu yang tengah mengepel area lapangan bersama dengan Suna. Lelaki berambut pirang itu melanjutkan, "kalo aja lu ga ngajak gue berantem, kak Kita gak akan hukum kita bersihin lapangan tau gak?!"
"Yang mancing duluan siapa, anjir?!" balas Osamu tak terima. "Lu kalo gak mancing gue dengan omongan sampah lu itu, kejadiannya gak akan gini!"
"Berisik woy. Mending cepet kelarin, gue ngantuk." sela Suna malas. Atsumu dan Osamu saling mendecih, bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.
"Atsumu, Osamu, Suna. Udah?"
Ketiganya menoleh pada Kita yang masuk ke lapangan dengan plastik berisi 3 botol minuman segar. Kita meletakkan plastik itu di kursi latihan, "kalau belum, besok lagi aja. Sekarang minum, terus siap-siap pulang."
Atsumu, Osamu serta Suna menghela nafas lega. Mereka pun lantas meletakkan peralatan bersih-bersih di gudang, kemudian berjalan mendekati Kita yang sudah duduk di kursi sembari meminum air dari botol yang selalu dibawanya. Atsumu mengambil satu botol, "makasih ya kak, maaf buat kejadian tadi."
"Iya, gapapa." Kita menutup botolnya kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Lain kali, kalau ada masalah, omongin baik-baik. Kamu sama Osamu kan saudara, harusnya bisa dong diomongin sambil ngobrol?"
Atsumu dan Osamu terdiam. Kita mengalihkan pandangannya pada Suna, "Suna juga. Saya percaya loh sama kamu buat handle Miya Kembar semisal mereka berantem terus Aran gak ada. Ginjima jelas gak bisa, dia terlalu gampang panik. Lain kali, lerai mereka. Perkelahian pun bukan hal yang baik untuk diabadikan, ngerti?"
"I-Iya kak, maaf." jawab Suna pelan. Kita tersenyum, "yaudah gapapa, yang penting kalian udah sadar. Sekarang ayo pulang, lampunya mau saya matiin."
Atsumu, Osamu serta Suna mengangguk dan bergegas membawa tas mereka, kemudian berjalan keluar area lapangan disusul oleh Kita. Begitu selesai, mereka pun berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
"Kak, rumah kakak kan jauh, apa gamasalah pulang sendiri?" tanya Atsumu. Kita menggelengkan kepalanya, "gapapa, Atsumu. Saya udah biasa."
"Emang kenapa Tsumu? Lu mau nganterin?" tanya Suna iseng. Atsumu mendengus, "apasih lu? Gue kan khawatir! Kak Kita kan biasa pulang sama Aran, sekarang dia pulang sendiri, mana jauh juga. Udah malem ini."
Kita tertawa kecil, untuk kali ini ia tak akan melerai ketiga orang itu. Tak terasa, mereka sudah tiba di halte bis. Kita menatap ketiganya, "bis saya udah dateng, saya duluan ya? Kalian hati-hati di jalan."
"Iya kak, kakak juga!"
Kita pun berjalan masuk ke dalam bisnya, meninggalkan Atsumu, Osamu serta Suna yang masih menunggu bis mereka datang. Suna berceletuk, "kak Kita adem banget ya, tapi kalo marah sadis anjir."
"Iya, makanya gue gamau dah bikin kak Kita marah lagi. Capek." sahut Osamu. Atsumu menyahut balik, "iya, tapi kalo senyum, manis deh."
"Hah?"
Suna dan Osamu sontak menatap Atsumu kaget. Osamu bertanya, "apa tadi lu bilang, Tsumu?"
"Apasih, gak ada siaran ulang, gue bukan acara TV." ucap Atsumu malas. "Yuk dah balik, bisnya dateng tuh."
Suna dan Osamu saling bertatapan sejenak, sebelum akhirnya berjalan mengikuti Atsumu ke dalam bis.
Dan, malam itu pun berakhir dengan pertanyaan di kepala Suna serta Osamuβbarusan, Atsumu bilang apa?
β #γγΌγ γΉγ€γΌγγγΌγ - end.
Atsumu menggerutu sembari menatap Osamu yang tengah mengepel area lapangan bersama dengan Suna. Lelaki berambut pirang itu melanjutkan, "kalo aja lu ga ngajak gue berantem, kak Kita gak akan hukum kita bersihin lapangan tau gak?!"
"Yang mancing duluan siapa, anjir?!" balas Osamu tak terima. "Lu kalo gak mancing gue dengan omongan sampah lu itu, kejadiannya gak akan gini!"
"Berisik woy. Mending cepet kelarin, gue ngantuk." sela Suna malas. Atsumu dan Osamu saling mendecih, bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.
"Atsumu, Osamu, Suna. Udah?"
Ketiganya menoleh pada Kita yang masuk ke lapangan dengan plastik berisi 3 botol minuman segar. Kita meletakkan plastik itu di kursi latihan, "kalau belum, besok lagi aja. Sekarang minum, terus siap-siap pulang."
Atsumu, Osamu serta Suna menghela nafas lega. Mereka pun lantas meletakkan peralatan bersih-bersih di gudang, kemudian berjalan mendekati Kita yang sudah duduk di kursi sembari meminum air dari botol yang selalu dibawanya. Atsumu mengambil satu botol, "makasih ya kak, maaf buat kejadian tadi."
"Iya, gapapa." Kita menutup botolnya kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Lain kali, kalau ada masalah, omongin baik-baik. Kamu sama Osamu kan saudara, harusnya bisa dong diomongin sambil ngobrol?"
Atsumu dan Osamu terdiam. Kita mengalihkan pandangannya pada Suna, "Suna juga. Saya percaya loh sama kamu buat handle Miya Kembar semisal mereka berantem terus Aran gak ada. Ginjima jelas gak bisa, dia terlalu gampang panik. Lain kali, lerai mereka. Perkelahian pun bukan hal yang baik untuk diabadikan, ngerti?"
"I-Iya kak, maaf." jawab Suna pelan. Kita tersenyum, "yaudah gapapa, yang penting kalian udah sadar. Sekarang ayo pulang, lampunya mau saya matiin."
Atsumu, Osamu serta Suna mengangguk dan bergegas membawa tas mereka, kemudian berjalan keluar area lapangan disusul oleh Kita. Begitu selesai, mereka pun berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
"Kak, rumah kakak kan jauh, apa gamasalah pulang sendiri?" tanya Atsumu. Kita menggelengkan kepalanya, "gapapa, Atsumu. Saya udah biasa."
"Emang kenapa Tsumu? Lu mau nganterin?" tanya Suna iseng. Atsumu mendengus, "apasih lu? Gue kan khawatir! Kak Kita kan biasa pulang sama Aran, sekarang dia pulang sendiri, mana jauh juga. Udah malem ini."
Kita tertawa kecil, untuk kali ini ia tak akan melerai ketiga orang itu. Tak terasa, mereka sudah tiba di halte bis. Kita menatap ketiganya, "bis saya udah dateng, saya duluan ya? Kalian hati-hati di jalan."
"Iya kak, kakak juga!"
Kita pun berjalan masuk ke dalam bisnya, meninggalkan Atsumu, Osamu serta Suna yang masih menunggu bis mereka datang. Suna berceletuk, "kak Kita adem banget ya, tapi kalo marah sadis anjir."
"Iya, makanya gue gamau dah bikin kak Kita marah lagi. Capek." sahut Osamu. Atsumu menyahut balik, "iya, tapi kalo senyum, manis deh."
"Hah?"
Suna dan Osamu sontak menatap Atsumu kaget. Osamu bertanya, "apa tadi lu bilang, Tsumu?"
"Apasih, gak ada siaran ulang, gue bukan acara TV." ucap Atsumu malas. "Yuk dah balik, bisnya dateng tuh."
Suna dan Osamu saling bertatapan sejenak, sebelum akhirnya berjalan mengikuti Atsumu ke dalam bis.
Dan, malam itu pun berakhir dengan pertanyaan di kepala Suna serta Osamuβbarusan, Atsumu bilang apa?
β #γγΌγ γΉγ€γΌγγγΌγ - end.