"Apa yang kita lakuin setiap hari itu bakal ngejadiin kita 'seseorang'. Hasil cuman efek samping dari itu semua."
Aran menatap Kita, kali ini mereka tengah berjalan bersama ke arah rumah mereka. Pembagian seragam baru saja selesai, dan untuk pertamakalinya Kita mendapatkan seragam miliknya sendiri, lengkap dengan pelatih yang membebankan tanggung jawab sebagai Kapten untuknya saat pertandingan nasional nanti.
Namun, ada yang unik. Dimana setelah menerima seragam, Kita tiba-tiba menangis, seolah melampiaskan kesenangannya melalui tangisan. Aran ingat jelas, sampai-sampai hal itu membuat Suna, Ginjima serta si Miya Kembar terkejut. Bahkan Suna sampai mengatakan, "hah? Kak Kita bisa nangis? Demi apa?!" yang membuat Aran harus melayangkan pukulan pada lelaki bermata sipit itu.
Hah, benar-benar kejadian yang tidak terduga. Bahkan Aran saja sampai tak tahu harus berkata apa.
"Orang dewasa sering banget mikir gitu." lanjut Kita. "Padahal, kita gak perlu numpuin sesuatu cuman pada satu hal. Gueβ"
"Hadeuh, Kitaaa!" Aran yang sebenarnya sudah mulai bosan mendengar ceramahan Kita akhirnya menghentikan lelaki itu. Ia berucap, "lo kalo seneng, ya seneng aja! Gausah bertele-tele, loβ"
"Hahahaha."
"Hah? Apa yang lucu? Ngapa ketawa?!"
Aran menaikkan alisnya tatkala melihat Kita tertawa selepas itu. Sembari berjalan dan menghentikan tawanya, Kita melanjutkan, "Aran Aran, dengerin gue dulu. Gue belom selesai ngomong, tau."
"Hadeuh, abisnya lo banyak ceramah." ketus Aran. Kita tersenyum, merogoh tasnya dan menunjukkan seragamnya, "gue.. Cuman penasaran aja, Ran. Apa ini juga termasuk hasil dari semua usaha gue selama ini?"
"Ya iya. Lu main voli, itu usaha lu." jawab Aran. "Lu tuh, jangan kaya robot makanya. Pas tadi lu nangis ya, Suna sama Miya Kembar dah kek orang ilang. Aneh banget anjrit, sumpah."
"Masa sih?" Kita terkekeh. "Tapi ya.. Ran. Gue gak akan main voli terus.. Voli bukan satu-satunya kesenengan dan kelanjutkan dalam hidup. Lakuin apa yang lo suka, nikmatin hasilnya."
"Betul, untuk kali ini gue setuju." Aran menepuk bahu Kita. "Dengerin, Shin. Lu bukan robot, lu manusia. Lu berhak nunjukkin ekspresi lu, oke? Jangan kaku gitu ah, jelek lu."
Kita hanya tersenyum, begitupula Aran yang merasa puas. Akhirnya ia tak akan mendengar ucapan kaku dari Kita, setidaknya lelaki itu sudah mulai berusaha menunjukkan ekspresinya. Sekarang, yang ia dan Kita bisa lakukan adalah menikmati voli mereka, di tahun akhir mereka berada di Inarizaki ini.
Yah, walau diam-diam Aran merasa mungkin nanti, ia akan merindukan ucapan Kita yang terdengar datar dan monoton.
β #γγΌγ γΉγ€γΌγγγΌγ - End.
Aran menatap Kita, kali ini mereka tengah berjalan bersama ke arah rumah mereka. Pembagian seragam baru saja selesai, dan untuk pertamakalinya Kita mendapatkan seragam miliknya sendiri, lengkap dengan pelatih yang membebankan tanggung jawab sebagai Kapten untuknya saat pertandingan nasional nanti.
Namun, ada yang unik. Dimana setelah menerima seragam, Kita tiba-tiba menangis, seolah melampiaskan kesenangannya melalui tangisan. Aran ingat jelas, sampai-sampai hal itu membuat Suna, Ginjima serta si Miya Kembar terkejut. Bahkan Suna sampai mengatakan, "hah? Kak Kita bisa nangis? Demi apa?!" yang membuat Aran harus melayangkan pukulan pada lelaki bermata sipit itu.
Hah, benar-benar kejadian yang tidak terduga. Bahkan Aran saja sampai tak tahu harus berkata apa.
"Orang dewasa sering banget mikir gitu." lanjut Kita. "Padahal, kita gak perlu numpuin sesuatu cuman pada satu hal. Gueβ"
"Hadeuh, Kitaaa!" Aran yang sebenarnya sudah mulai bosan mendengar ceramahan Kita akhirnya menghentikan lelaki itu. Ia berucap, "lo kalo seneng, ya seneng aja! Gausah bertele-tele, loβ"
"Hahahaha."
"Hah? Apa yang lucu? Ngapa ketawa?!"
Aran menaikkan alisnya tatkala melihat Kita tertawa selepas itu. Sembari berjalan dan menghentikan tawanya, Kita melanjutkan, "Aran Aran, dengerin gue dulu. Gue belom selesai ngomong, tau."
"Hadeuh, abisnya lo banyak ceramah." ketus Aran. Kita tersenyum, merogoh tasnya dan menunjukkan seragamnya, "gue.. Cuman penasaran aja, Ran. Apa ini juga termasuk hasil dari semua usaha gue selama ini?"
"Ya iya. Lu main voli, itu usaha lu." jawab Aran. "Lu tuh, jangan kaya robot makanya. Pas tadi lu nangis ya, Suna sama Miya Kembar dah kek orang ilang. Aneh banget anjrit, sumpah."
"Masa sih?" Kita terkekeh. "Tapi ya.. Ran. Gue gak akan main voli terus.. Voli bukan satu-satunya kesenengan dan kelanjutkan dalam hidup. Lakuin apa yang lo suka, nikmatin hasilnya."
"Betul, untuk kali ini gue setuju." Aran menepuk bahu Kita. "Dengerin, Shin. Lu bukan robot, lu manusia. Lu berhak nunjukkin ekspresi lu, oke? Jangan kaku gitu ah, jelek lu."
Kita hanya tersenyum, begitupula Aran yang merasa puas. Akhirnya ia tak akan mendengar ucapan kaku dari Kita, setidaknya lelaki itu sudah mulai berusaha menunjukkan ekspresinya. Sekarang, yang ia dan Kita bisa lakukan adalah menikmati voli mereka, di tahun akhir mereka berada di Inarizaki ini.
Yah, walau diam-diam Aran merasa mungkin nanti, ia akan merindukan ucapan Kita yang terdengar datar dan monoton.
β #γγΌγ γΉγ€γΌγγγΌγ - End.