cinta ini bukan lagi sekadar perasaan, tapi sudah menjelma menjadi semacam bencana paling indah yang pernah singgah di hidupku. sejak kamu datang, logikaku seperti mengundurkan diri tanpa sempat mengajukan surat resign. setiap detik yang seharusnya berjalan biasa, mendadak berubah jadi ruang penuh namamu. kamu itu ibarat gravitasi yang diam-diam menarik seluruh semestaku hingga poros hidupku bergeser pelan ke arah yang sama: ke arah kamu. kalau mencintaimu adalah sebuah kekeliruan, biarkan aku menjadi orang yang paling rela tersesat di dalamnya. karena sejauh apa pun aku mencoba kembali, ujungnya tetap kamu, lagi, lagi, dan lagi