Telegram Sedang Mengembangkan WEB-Proxy Eksperimental
Ditemukan jenis proxy eksperimental baru bernama “WEB” dalam kode Telegram Desktop. Penemuan ini dipublikasikan oleh teleLakel.
Kode server untuk WEB-proxy masih dalam tahap pengembangan. Telegram juga belum secara resmi mendukung implementasi apa pun, jadi untuk saat ini belum ada cara yang baik untuk mencoba teknologi tersebut.
Kenapa teknologi ini diperlukan? Kenapa tidak menggunakan MTProxy?
MTProxy yang sudah ada sebenarnya bisa dibuat agar terlihat seperti koneksi HTTPS menggunakan ekstensi FakeTLS. Namun, sistem Deep Packet Inspection (DPI) modern sudah bisa membedakan koneksi seperti ini dari HTTPS asli. Pasalnya, FakeTLS masih memiliki beberapa perbedaan dengan koneksi HTTPS sebenarnya yang bisa dikenali dari luar.
Transport baru bernama WEB membuat pendeteksian menjadi jauh lebih sulit. Untuk berkomunikasi dengan server, Telegram menggunakan browser bawaan perangkat (WebView). Telegram kemudian membuat koneksi TLS/HTTPS sungguhan dengan kriptografi standar yang digunakan browser. Dengan begitu, traffic Telegram menjadi lebih sulit dibedakan dari aktivitas browsing web biasa.
Komunitas independen Telemt juga sedang mengembangkan protokol yang lebih sulit dideteksi. Sebelumnya, berkat penelitian komunitas terhadap sistem DPI di Rusia, pengembang Telegram memperbarui MTProxy pada klien mereka agar dapat beradaptasi dengan metode pendeteksian baru.
Komunitas tersebut menilai Telegram perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengembangkan metode baru agar layanan mereka lebih tahan terhadap pemblokiran dan penyensoran. Jika WEB-proxy tidak terus dikembangkan, teknologi ini bisa saja berhenti berfungsi di masa depan. Bahkan di dalam koneksi TLS yang benar-benar asli, traffic Telegram tetap mungkin memiliki karakteristik tertentu yang dapat digunakan untuk mengidentifikasinya jika tidak ditambahkan metode penyamaran lainnya.
#Desktop #proxy #pemblokiran
Ditemukan jenis proxy eksperimental baru bernama “WEB” dalam kode Telegram Desktop. Penemuan ini dipublikasikan oleh teleLakel.
Kode server untuk WEB-proxy masih dalam tahap pengembangan. Telegram juga belum secara resmi mendukung implementasi apa pun, jadi untuk saat ini belum ada cara yang baik untuk mencoba teknologi tersebut.
Kenapa teknologi ini diperlukan? Kenapa tidak menggunakan MTProxy?
MTProxy yang sudah ada sebenarnya bisa dibuat agar terlihat seperti koneksi HTTPS menggunakan ekstensi FakeTLS. Namun, sistem Deep Packet Inspection (DPI) modern sudah bisa membedakan koneksi seperti ini dari HTTPS asli. Pasalnya, FakeTLS masih memiliki beberapa perbedaan dengan koneksi HTTPS sebenarnya yang bisa dikenali dari luar.
Transport baru bernama WEB membuat pendeteksian menjadi jauh lebih sulit. Untuk berkomunikasi dengan server, Telegram menggunakan browser bawaan perangkat (WebView). Telegram kemudian membuat koneksi TLS/HTTPS sungguhan dengan kriptografi standar yang digunakan browser. Dengan begitu, traffic Telegram menjadi lebih sulit dibedakan dari aktivitas browsing web biasa.
Cara kerjanya
• Telegram membuka laman khusus pada domain proxy menggunakan browser tersembunyi.
• Domain tersebut juga bisa tetap digunakan sebagai situs web biasa. Channel Telegram tersembunyi hanya akan aktif jika permintaan yang masuk berisi kunci rahasia yang benar.
• Di dalam channel web tersebut, data MTProxy yang sudah terenkripsi dibungkus ke dalam frame WEB-proxy, kemudian dikirim ke server proxy. Saat ini, proses tersebut menggunakan WebSocket.
• Traffic HTTP/WebSocket kemudian dikemas ulang dan diteruskan ke server MTProxy tanpa perlu didekripsi.
Saat ini fitur tersebut masih aktif dikembangkan. Jadi, ketika akhirnya dirilis, protokolnya masih mungkin mengalami perubahan.
Komunitas independen Telemt juga sedang mengembangkan protokol yang lebih sulit dideteksi. Sebelumnya, berkat penelitian komunitas terhadap sistem DPI di Rusia, pengembang Telegram memperbarui MTProxy pada klien mereka agar dapat beradaptasi dengan metode pendeteksian baru.
Komunitas tersebut menilai Telegram perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengembangkan metode baru agar layanan mereka lebih tahan terhadap pemblokiran dan penyensoran. Jika WEB-proxy tidak terus dikembangkan, teknologi ini bisa saja berhenti berfungsi di masa depan. Bahkan di dalam koneksi TLS yang benar-benar asli, traffic Telegram tetap mungkin memiliki karakteristik tertentu yang dapat digunakan untuk mengidentifikasinya jika tidak ditambahkan metode penyamaran lainnya.
#Desktop #proxy #pemblokiran