Milik Nabastala.


Гео и язык канала: не указан, не указан
Категория: не указана


Biar daun-daun gugur, angin tetap berhembus agar jarak menggugur. Rindu tetap menghembus seperti nada yang kerap mengalun, hamba punya rasa yang terus berayun.
Ajudan ; @panglimafbot.
Arsip ; @Litanindra.

Связанные каналы

Гео и язык канала
не указан, не указан
Категория
не указана
Статистика
Фильтр публикаций




         Saat baskara sedang menikam buana, diriku berkamuflase pada batang nirwana. Langkah kaki yang tak beraturan memecah kelu lamunan, afeksi dalam ilusi debaran tanpa emosi bernyawa dalam satu dimensi menikam ruang yang sepi. Bibir membisu, pikiran berpacu tubuh yang terpaku potongan kisah biru. Oh, lihatlah diriku? Diriku pernah bersandar padanya di tengah terik menggores kisah dengan berisik menerka polemix yang rumit dan beradu irama hati di ruang sempit. Meninggalkan ilusi pelik, kita pernah sedekat atma sebelum sejauh dua buana dua kalbu dalam romansa, menuai rasa tanpa berkata. Kau yang singgah dan aku terlampau sungguh pada atma yang rapuh dengan sawalanya membuat luluh dan sialnya jiwa ini jatuh. Diriku, tamu yang kau undang menggores kisah dalam ruang lalu kau pergi dan menghilang dan aku tak kau biarkan pulang, terjebak kenangan yang kau tuang.


Видео недоступно для предпросмотра
Смотреть в Telegram




                                                                                  Tentang pesawat.

Merangkum hal silam tentang kemarin yang terekam singkat, padat, jelas, suram. Detik-detik pesawat yang jatuh, awalnya bahagia dan tentram saling menggenggam kini hanya ada dendam. Sebuah rasa temaram bersinggungan perihal haram, terkoyak dan berkali-kali terhujam. Hai puan, mungkin lupa akan hal seram mamun puan tetap berkelit pada malam yang setiap baitnya masih bersemayam. Sebuah hal ganjal dan kekejaman berkawan dengan muram tanpa tau akhirnya akan ditikam puan penuh dengan luka dan lebam. Si rupawan nan kejam yang seharusnya dirajam sampai tak bersisa dan tenggelam bersama pesawat yang jatuh.
















         Rasanya malang sekali langit, ketika hidup diantara terangnya rembulan sebab cahayanya tak kunjung buatnya tampak biru sebiru dan seterang kala bangunnya matahari. Tetapi langit tak melulu bersedih akan gelap rupa malam yang hanya menyorot sekakar cahaya dan tak kunjung menerangi indahnya alam di bumi. Memang, terang membuat segalanya terlihat indah samudera pun ikut membiru, pantulan hujan menciptakan puspawarna nan cantik. Tapi apa kata langit ke bulan? "Terimakasih sang rembulan akan segala ke rendah hatian mu sebab manusia tak akan tabu, eloknya bintang-bintang saat tubuhku gelap sewaktu anda membiarkan cahayamu seterang matahari di kala siang."






         Teruntuk senja, katakan pada dunia tak seharusnya dirimu memaksa untuk memenuhi langit, Atas nama selain jingga ku kira ada cahaya. Langit sudah terlanjur kecewa, warna jingga tak begitu leluasa ku katakan pada semesta, bantu senja ringankan bebannya datangkan langit malam, bulan dan bintang sebagai jeda sebelum menghadirkan fajar di dunia.






Milik.jpg
154.2Кб
Nabastala.jpg
145.0Кб
         Sudah terlalu lama bangsa ini tertidur, tidur pulas diatas kasur janji janji. Berbuai alasan demokrasi, berebut opini demi duduk diatas kursi. Bak ilusi, menciptakan sejuta mimpi bagai langit yang tak bertepi. Mimpi itu mati, mati tertusuk janjinya sendiri. Kini dibalik kursi, duduk santai mengayunkan kaki terbuai tahta, mengacuhkan ironi mengubur dalam semua orasi.

         Air mata mengalir dipipi. Merunduk, haru meratapi teraut di wajah Ibu Pertiwi dalam doa yang tersirat untuk negeri.



Показано 20 последних публикаций.

164

подписчиков
Статистика канала