Park Jimin, seorang pria yang terobsesi dengan warna pink. Aku mengenalnya saat dia jatuh di trotoar karena barang belanjaan yang hampir semuanya berwarna pink menutupi pandangannya. Dan pada hari itu juga, orientasiku berubah. Sial, aku jatuh cinta padanya.
Aku bekerja paruh waktu sebagai penjaga sebuah toko, sisanya lagi waktuku ku habiskan di studio untuk membuat karya. Ya, aku seorang komposer. Belum cukup terkenal memang, namun baiknya uang yang kudapatkan cukup untuk membiayai biaya kuliahku dan sisanya dapat ku tabung. Aku 20 tahun, berada di semester 4 fakultas seni. Dan kekasihku yang terobsesi dengan pink itu, masih 18 tahun.
Ia hidup sendiri, mama dan papanya diluar kota. Aku sering menginap di rumahnya seperti hari ini. Orang tuanya pun mengijinkanku untuk menemaninya hingga keesokan hari.
"Hyung, jimin rindu." Ucapnya dengan nada manja. "Untuk apa? Kan hyung sudah disini bersama Jimin." kataku sambil mengelus pelan surai pink nya. Mulai kutelusupkan tanganku ke dalam baju berwarna violetnya dan mengelus perutnya yang ramping itu.
"Engh hyungg, jangan mulai~" Katanya sambil menatapku sayu. Ah sial, dia terlalu menggoda saat ini. Desahannya, geraman kecilnya, mata sipitnya, suaranya semuanya membuat nafsuku membuncah begitu saja. Hingga akhirnya ku dekap badan kecil itu sambil membisikkan "Hyung rindu milik jimin, bolehkah?"
Binarnya tampak mengkilap diterangi lampu neon putih. Bajunya sudah berantakan tak karuan, tiga kancing atasnya telah terbuka dan menunjukkan kedua nipple dan pundaknya yang putih mulus. Jawabannya lah yang membuatnya seperti ini. Bagaimana bisa setelah aku bertanya seperti itu, ia malah naik ke pangkuanku sambil berkata "Ya hyung, aku milikmu malam ini." sambil terus menggigit bibirnya dan menggerakan sedikit bokongnya ke kemaluanku.
Kulepaskan hotpants yang sedari tadi dikenakannya, lalu mulai menjilati seluruh bagian intimnya. Paha dalamnya, kejantanannya yg kevil itu dan holenya. Ku tusuk kan lidahku ke dalamnya berkali-kali, sedangkan sang empu hanya menjambak kecil rambutku dan terus nendesah tak karuan. Ah, jiminku selalu bisa menaikkan gairah walau dia hanya bernafas.
"Hyung! Masukkan saja ayo cepat!" Mintanya dengan sangat menggairahkan. Aku yang masih ingin bermain-main mulai berjalan ke sampingnya dan mencubit kedua nipplenya. Lalu, berjalan ke nakas dan mengambil sebuah vibrator yang memiliki ekor berbulu berwarna pink. Lekas saja ku masukkan itu dalam hole Jimin. Raungannya terdengar ke seluruh ruangan, ku setel mainan itu ke titik tercepatnya.
"Ah hyung! Hyungghhh~ shhh ahhh hyung~ masukkan milikmu jangan mainan sialan ini ashhh~" Seringaian kecil lolos dari bibirku, Ku biarkan Jimin terus begitu hingga nanti saatnya aku memuaskannya.
Aku bekerja paruh waktu sebagai penjaga sebuah toko, sisanya lagi waktuku ku habiskan di studio untuk membuat karya. Ya, aku seorang komposer. Belum cukup terkenal memang, namun baiknya uang yang kudapatkan cukup untuk membiayai biaya kuliahku dan sisanya dapat ku tabung. Aku 20 tahun, berada di semester 4 fakultas seni. Dan kekasihku yang terobsesi dengan pink itu, masih 18 tahun.
Ia hidup sendiri, mama dan papanya diluar kota. Aku sering menginap di rumahnya seperti hari ini. Orang tuanya pun mengijinkanku untuk menemaninya hingga keesokan hari.
"Hyung, jimin rindu." Ucapnya dengan nada manja. "Untuk apa? Kan hyung sudah disini bersama Jimin." kataku sambil mengelus pelan surai pink nya. Mulai kutelusupkan tanganku ke dalam baju berwarna violetnya dan mengelus perutnya yang ramping itu.
"Engh hyungg, jangan mulai~" Katanya sambil menatapku sayu. Ah sial, dia terlalu menggoda saat ini. Desahannya, geraman kecilnya, mata sipitnya, suaranya semuanya membuat nafsuku membuncah begitu saja. Hingga akhirnya ku dekap badan kecil itu sambil membisikkan "Hyung rindu milik jimin, bolehkah?"
Binarnya tampak mengkilap diterangi lampu neon putih. Bajunya sudah berantakan tak karuan, tiga kancing atasnya telah terbuka dan menunjukkan kedua nipple dan pundaknya yang putih mulus. Jawabannya lah yang membuatnya seperti ini. Bagaimana bisa setelah aku bertanya seperti itu, ia malah naik ke pangkuanku sambil berkata "Ya hyung, aku milikmu malam ini." sambil terus menggigit bibirnya dan menggerakan sedikit bokongnya ke kemaluanku.
Kulepaskan hotpants yang sedari tadi dikenakannya, lalu mulai menjilati seluruh bagian intimnya. Paha dalamnya, kejantanannya yg kevil itu dan holenya. Ku tusuk kan lidahku ke dalamnya berkali-kali, sedangkan sang empu hanya menjambak kecil rambutku dan terus nendesah tak karuan. Ah, jiminku selalu bisa menaikkan gairah walau dia hanya bernafas.
"Hyung! Masukkan saja ayo cepat!" Mintanya dengan sangat menggairahkan. Aku yang masih ingin bermain-main mulai berjalan ke sampingnya dan mencubit kedua nipplenya. Lalu, berjalan ke nakas dan mengambil sebuah vibrator yang memiliki ekor berbulu berwarna pink. Lekas saja ku masukkan itu dalam hole Jimin. Raungannya terdengar ke seluruh ruangan, ku setel mainan itu ke titik tercepatnya.
"Ah hyung! Hyungghhh~ shhh ahhh hyung~ masukkan milikmu jangan mainan sialan ini ashhh~" Seringaian kecil lolos dari bibirku, Ku biarkan Jimin terus begitu hingga nanti saatnya aku memuaskannya.