dulu kamu dan aku, pernah sedekat itu. pernah saling mengungkap rasa syukur. pernah pula saling menghibur. pernah saling memeluk di segala pelik yang utuh. pernah saling menenangkan di antara begitu banyak tangis.
hingga pada akhirnya, semesta memutuskan waktu dan kita. segala rencana yang direncanakan pula sia-sia. kau dan aku bahkan tak lagi saling bertegur sapa. bagai dua orang saling benci pula mencintai sebenarnya.
yang di kepalaku, masih kamu. tak pernah berubah seiring berjalannya waktu. yang ku doakan, pula masih dirimu. yang selalu ku nantikan kembalinya, masih kamu. kamu masih ada di sana. jadi bagian penting dalam hidup raga pula jiwa sedih belaka.
kamu dengan bahagiamu, sedihmu, kecewamu, tangismu. kamu dengan segala rasa yang kamu bawa.
aku masih sangat mengharapkanmu kembali. meskipun rasa ini sekadar rasa mati. sebab menurutmu aku harus hati-hati.
bahagiamu bukan lagi aku. bersamamu, bukan lagi kewajibanku.
— tanda belum melupakanmu, S.
hingga pada akhirnya, semesta memutuskan waktu dan kita. segala rencana yang direncanakan pula sia-sia. kau dan aku bahkan tak lagi saling bertegur sapa. bagai dua orang saling benci pula mencintai sebenarnya.
yang di kepalaku, masih kamu. tak pernah berubah seiring berjalannya waktu. yang ku doakan, pula masih dirimu. yang selalu ku nantikan kembalinya, masih kamu. kamu masih ada di sana. jadi bagian penting dalam hidup raga pula jiwa sedih belaka.
kamu dengan bahagiamu, sedihmu, kecewamu, tangismu. kamu dengan segala rasa yang kamu bawa.
aku masih sangat mengharapkanmu kembali. meskipun rasa ini sekadar rasa mati. sebab menurutmu aku harus hati-hati.
bahagiamu bukan lagi aku. bersamamu, bukan lagi kewajibanku.
— tanda belum melupakanmu, S.