Suna berjalan pelan ke arah ruang klub sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sesekali ia bersiul, menatap koridor yang masih kosong mengingat jam masih menunjukkan pukul 6 pagi sementara sekolah baru akan dimulai pukul 8.
"Ah nanti gue beli susu dulu—eh! Kak Kita?!"
Pemuda bermata sipit itu sontak terkejut tatkala mendapati Kita yang sudah berada di dalam ruang klub ketika ia membuka pintunya. Kita nampak sudah siap dengan pakaian klubnya, mata cokelatnya menatap Suna datar. Lelaki itu berucap, "kenapa kaget begitu, Suna?"
Suna menepuk dadanya pelan, masih terlalu kaget dengan kehadiran Kita. Biasanya, ialah yang selalu tiba terlebih dahulu. Tapi kali ini ia kalah oleh Kita.
"Ganti baju, Suna. Nanti telat, ditegur pelatih." sahut Kita, lelaki itu berjalan mengambil sapu yang ada di dekat westafel. Suna mengangguk pelan, "i-iya kak, tapi kak Kita udah disini dari jam berapa? Cepet banget?"
"Jam 5? Saya lupa belum bersihin kamar mandi." jawab Kita sembari berpikir. "Emangnya kenapa?"
"E-Enggak kak." Suna menggeleng. Ia melepas sepatunya kemudian berjalan ke arah lokernya, "kak Kita, apa gak capek bersihin fasilitas tiap hari? Maksudnya.. Kan ini bukan tugas kak Kita. Ini tugas petugas kebersihan sekolah."
"Saya cuman ngelakuin apa yang biasa saya lakuin setiap hari, Suna." jawab Kita, kini ia sibuk menyapu lantai yang sebenarnya masih cukup bersih. "Ibarat kita ngelakuin aktifitas sehari-hari, kalau kita ngelakuinnya secara rutin, ini bakal jadi kebiasaan yang baik. Yang nuntun kita buat hidup dengan baik. Kedengerannya sederhana, tapi bermanfaat buat semuanya kan?"
Suna terdiam mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kita. Sebenarnya ia sering kali berpikir, apa alasan Kita melakukan ini semua? Apa ia tidak lelah? Kurang sempurna apa lagi hal yang ia lakukan setiap harinya?
Pikiran Suna jadi tertuju pada satu hal—apakah Kita memiliki kelemahan dibalik sifat dan kelakuannya selama ini?
Ah, Suna jadi berharap ia bisa menemukan satu kelemahan Kita, misalnya melihat Kita berbicara dengan nada imut kepada hewan peliharaannya.
"Goblok, mikir apa gue." Suna menepuk pipinya sendiri tatkala ia merasa sudah berpikir terlalu jauh. Buru-buru ia mengganti seragamnya, memakai baju klubnya dan meletakkan tasnya. Ia melirik ke arah Kita, lelaki itu sedang memakai sepatu olahraganya.
"Mau beli susu gak, Suna?" tanya Kita. "Ayo bareng, saya kebetulan belum sarapan."
"Eh, iya kak. Ayo."
Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang klub ke arah mesin makanan dan minuman yang berada di sebelah kantin. Kita mengeluarkan dompetnya, menatap Suna, "Suna mau apa? Biar pake uang saya dulu—"
"Gak usah kak!" sela Suna. "Pake uang aku aja gapapa, serius."
"Oh, oke." Kita memasukkan uangnya ke dalam lubang uang di mesin, mengambil sebuah roti sandwich serta susu berperisa pisang yang sudah turun dari bagian atas mesin. "Ayo Suna, jangan lama-lama. Jam 7 nanti udah harus pemanasan."
Suna mengangguk, bergegas memasukkan uang ke dalam mesin. Setelah mengambil susu yang diinginkannya, ia berjalan mengikuti Kita dari belakang, kemudian berpikir lagi.
'Kira-kira, apa ya kelemahan kak Kita?'
— #ホームスイートホーム - 1.
"Ah nanti gue beli susu dulu—eh! Kak Kita?!"
Pemuda bermata sipit itu sontak terkejut tatkala mendapati Kita yang sudah berada di dalam ruang klub ketika ia membuka pintunya. Kita nampak sudah siap dengan pakaian klubnya, mata cokelatnya menatap Suna datar. Lelaki itu berucap, "kenapa kaget begitu, Suna?"
Suna menepuk dadanya pelan, masih terlalu kaget dengan kehadiran Kita. Biasanya, ialah yang selalu tiba terlebih dahulu. Tapi kali ini ia kalah oleh Kita.
"Ganti baju, Suna. Nanti telat, ditegur pelatih." sahut Kita, lelaki itu berjalan mengambil sapu yang ada di dekat westafel. Suna mengangguk pelan, "i-iya kak, tapi kak Kita udah disini dari jam berapa? Cepet banget?"
"Jam 5? Saya lupa belum bersihin kamar mandi." jawab Kita sembari berpikir. "Emangnya kenapa?"
"E-Enggak kak." Suna menggeleng. Ia melepas sepatunya kemudian berjalan ke arah lokernya, "kak Kita, apa gak capek bersihin fasilitas tiap hari? Maksudnya.. Kan ini bukan tugas kak Kita. Ini tugas petugas kebersihan sekolah."
"Saya cuman ngelakuin apa yang biasa saya lakuin setiap hari, Suna." jawab Kita, kini ia sibuk menyapu lantai yang sebenarnya masih cukup bersih. "Ibarat kita ngelakuin aktifitas sehari-hari, kalau kita ngelakuinnya secara rutin, ini bakal jadi kebiasaan yang baik. Yang nuntun kita buat hidup dengan baik. Kedengerannya sederhana, tapi bermanfaat buat semuanya kan?"
Suna terdiam mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kita. Sebenarnya ia sering kali berpikir, apa alasan Kita melakukan ini semua? Apa ia tidak lelah? Kurang sempurna apa lagi hal yang ia lakukan setiap harinya?
Pikiran Suna jadi tertuju pada satu hal—apakah Kita memiliki kelemahan dibalik sifat dan kelakuannya selama ini?
Ah, Suna jadi berharap ia bisa menemukan satu kelemahan Kita, misalnya melihat Kita berbicara dengan nada imut kepada hewan peliharaannya.
"Goblok, mikir apa gue." Suna menepuk pipinya sendiri tatkala ia merasa sudah berpikir terlalu jauh. Buru-buru ia mengganti seragamnya, memakai baju klubnya dan meletakkan tasnya. Ia melirik ke arah Kita, lelaki itu sedang memakai sepatu olahraganya.
"Mau beli susu gak, Suna?" tanya Kita. "Ayo bareng, saya kebetulan belum sarapan."
"Eh, iya kak. Ayo."
Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang klub ke arah mesin makanan dan minuman yang berada di sebelah kantin. Kita mengeluarkan dompetnya, menatap Suna, "Suna mau apa? Biar pake uang saya dulu—"
"Gak usah kak!" sela Suna. "Pake uang aku aja gapapa, serius."
"Oh, oke." Kita memasukkan uangnya ke dalam lubang uang di mesin, mengambil sebuah roti sandwich serta susu berperisa pisang yang sudah turun dari bagian atas mesin. "Ayo Suna, jangan lama-lama. Jam 7 nanti udah harus pemanasan."
Suna mengangguk, bergegas memasukkan uang ke dalam mesin. Setelah mengambil susu yang diinginkannya, ia berjalan mengikuti Kita dari belakang, kemudian berpikir lagi.
'Kira-kira, apa ya kelemahan kak Kita?'
— #ホームスイートホーム - 1.