Kemarilah, lebih dekat..
aku hendak berkisah..
kisah lawas yang belakangan ini baru kutemui makna tersirat daripada nya.
Sepuluh tahun yang lalu, di bawah pohon mangga depan rumah, sore hari.
"
Naka" - suara berat itu memanggilku, aku menoleh dan segera menghampiri sang pemilik suara
"
Dalem, kenapa Ayah?" -tanyaku sembari menatap wajahnya yang teduh
Ayah tersenyum usai ku bertanya.
"
Sudah makan? "-kembali bertanya
"
sudah, Ayah"
"
Makan sayur apa tadi? "
"
Cah Brokoli " -dengan tersenyum aku menyebutkan menu yang di masak ibu.
"
Enak?, suka? "
"
He em "-jawabku sambil mengangguk kuat kuat. karena Brokoli adalah menu favorit ku.
"
Sini, duduk samping Ayah. " -tuturnya
Aku menurut, segera mengambil tempat disamping Ayah.
"Kalau sudah besar mau jadi apa? " ujarnya sembari membelai tanganku.
entah kenapa, tiba-tiba saja terlewat bayangan
mainan pesawat ku di kamar..
"Mau jadi pilot, Yah" -dengan semangat aku menjawab
Lantas Ayahku tertawa dan mengacak-acak anak rambutku.
"
Mulia sekali..., kenapa pilot,
sayang? "
"
Karena aku mau naik pesawat yang seperti mainan ku Yah, tapi itu kecil, aku mau yang besar"-lagi lagi Ayah tertawa.
"
Coba ambil 'pesawat' mu "
Aku mengangguk, lalu masuk rumah, menuju kamarku, lantas mengambil benda itu.
Ayah lantas mengambilnya, lalu seolah membuatnya terbang di antara awan.
"
Naka anakku, kalau ingin jadi pilot, berarti kamu juga harus tau rasanya jadi pesawat.
Nak.. Pesawat itu sejatinya kuat, dan harus. Melewati awan, menyebrangi laut, menembus malam.. Kan?
Kelak di masa yang akan datang, Ayah ingin melihatmu, yang memliki jiwa kuat seperti pesawat mu ini ya " -tuturnya sembari menatap dua bola mataku.
Kami beradu tatap sesaat,
waktu itu aku mengangguk. Ya, karena belum terlalu paham tentang
tuturan dari Ayah barusan ini.
Wahai, tertanya Ayah berpesan agar di masa mendatang aku tetap kuat menghadapi angkara dunia ini.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ