Perempuan Angin
-
Engkau yang paling mahir menciptakan ombak di laut hatiku,
malam ini aku sedang belajar mematikan kehendak
dan memanjangkan kembali lipatan jarak,
sebab dekatmu kawah itu selalu bergolak, menanti saat meledak.
Rindu, sedang disimpan rapi di saku.
Engkau yang akan mengambilnya jika bertemu, tentu.
Perempuan itu gusar, tergesa
menyumpalkan kenangan yang rompal
dalam sebait puisi di jejaring sosial
Lelaki langit menjadi alamat paling lekat di ingatan
ketika lagu-lagu lama mengalun dari piringan hitam di ruang baca
Sesekali tangan mengibas, meraup uap kopi dan sisa ambung parfum di udara
– Waktu selalu tiada, janji adalah kemusykilan –
Betapa ingin ia berhenti menjadi angin.
---
Ratna Ayu Budhiarti, 2013
-
Engkau yang paling mahir menciptakan ombak di laut hatiku,
malam ini aku sedang belajar mematikan kehendak
dan memanjangkan kembali lipatan jarak,
sebab dekatmu kawah itu selalu bergolak, menanti saat meledak.
Rindu, sedang disimpan rapi di saku.
Engkau yang akan mengambilnya jika bertemu, tentu.
Perempuan itu gusar, tergesa
menyumpalkan kenangan yang rompal
dalam sebait puisi di jejaring sosial
Lelaki langit menjadi alamat paling lekat di ingatan
ketika lagu-lagu lama mengalun dari piringan hitam di ruang baca
Sesekali tangan mengibas, meraup uap kopi dan sisa ambung parfum di udara
– Waktu selalu tiada, janji adalah kemusykilan –
Betapa ingin ia berhenti menjadi angin.
---
Ratna Ayu Budhiarti, 2013