Beyond The Perfect.


Гео и язык канала: не указан, не указан
Категория: не указана


𝐎riginal 𝐂haracter ✶ 1992
This is the story of when I lost my perfection after showing off that I am a being the most perfect person in this world.
📢 @seokjinkece
👥 @lakonrzl
If you want to communicate with creator @Seokjin_robot

Связанные каналы

Гео и язык канала
не указан, не указан
Категория
не указана
Статистика
Фильтр публикаций


Jakarta, Agustus 2010.

"Bang Jack udah pulang?" teriak Afrozak dari depan pagar rumah setelah mendapati adanya mobil milik kakak laki-lakinya. Pemuda itu segera berlari mencari keberadaan sang kakak yang ia tunggu-tunggu kedatangannya.
"Oit Bang Jack??" panggil pemuda itu.

Yang dipanggil Jack itu keluar dari kamar, membawa koper besarnya. Mata lelaki berumur dua puluh tahunan lebih itu teralihkan kepada sang adek yang berdiri di pintu masuk. "Udah jam setengah delapan. Lo kemana aja, Ja? Balapan?" tanya lelaki itu.

"Warung. Bantuin temen," balas Afrozak. Sedangkan kakak laki-laki nya itu hanya diam dengan wajah muram. Tak lama kemudian, saat Afrozak hendak memasuki kamarnya untuk berganti baju, pertanyaan dari kakak laki-lakinya menghentikan langkahnya. "Ja, lo mau ikut gua gak?" tanya Jack, kakak laki-laki Afrozak.

Afrozak terkekeh. "Ogah, males gua tinggal di Bandung apalagi sama pejuang skripsi. Lo aja sendiri dah, Bang."

"Gua serius, Ja. Ikut gua!" Lelaki sulung di keluarga Lammoreno itu membentak si bungsu. Afrozak yang merasa aneh dengan itu pun bertanya. "Emang kenapa? Takut lo sendirian di Bandung?" tanya pemuda itu.

"Gua bakal jelasin di jalan, sekarang ikut gua dulu, Ja." Jack yang terlihat buru-buru itu mengusap wajahnya, seolah frustasi.

"Pindah ke Bandung?"

"Iya, ntar gua urus kepindahan lo, semuanya."

"Gak mau lah, Bang. Gila lo. Tanpa alasan gua disuruh pindah aja. Tiba-tiba lagi, ogah." Afrozak tak memedulikan kakak laki-lakinya yang memohon dengan buru-buru, ia masuk ke dalam kamar dan menutupnya.

Hari ini pemuda itu bingung dengan banyak hal yang telah terjadi. Entah itu mengenai Puspista, Manugalih dan keluarganya, dan kini tingkah laku kakak lelakinya. Bahkan sampai pemuda itu melupakan Sooya di fikirannya. Ia bingung sekali apa yang terjadi hari ini. Kenapa membingungkan? Kenapa banyak hal terjadi?

Afrozak berbaring di tempat tidur ber- sprei cokelat. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran penuh. "Padahal hari ini gua cuma mau bikin surat buat Sooya aja," gumam pemuda itu lalu mengecek saku celana yang di dalamnya ada dua kertas berisikan surat untuk Sooya.

Ia tak menghiraukan kakak laki-lakinya yang pamit pergi dari balik pintu. Pemuda berbahu lebar itu hanya tak mau meninggalkan Jakarta dan Sooya sebelum ia sempat memilikinya. Ia juga tak mau pergi tanpa persetujuan Bunda Musang terlebih dahulu.

Malam itu, pukul delapan malam. Afrozak terlelap di atas kasur, masih dengan seragam sekolahnya yang penuh keringat dan fikirannya yang merambat kemana-mana. Tanpa ia tahu bahwa pilihan yang ia ambil ini, akan disesalinya sampai mati.

⎙ All right reserved, do not copy.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (20) : JACK.



⠀


Pacarnya ditabrak, Manugalih yang ternyata menyukai pacarnya dan menjadi alasan pacarnya terluka, Bodyguard kepercayaan Manu yang ternyata sosok pemberi informasi kepada Om Abraham dan sumber terpecaya yang ia miliki itu siapa? Kepala Afrozak penuh dengan semua itu.

"Bang?" panggil Arkesh. Ia terlihat ingin tahu alasan kenapa Afrozak kelelahan dan melamun begitu duduk.

"Apa sih, Kesh, Rang?" Afrozak akhirnya menyahut setelah beberapa kali Arkeh dan Karang memanggilnya.

"Kenapa, Bang? Kaya kerasukan."

Afrozak menghela nafas panjang. "Bingung."

Karang tersenyum ceria. "Bingung sama Sooya atau Puspista? Udahlah, udah jelas-jelas Abang suka sama Puspista. Tadi Karang liat semua loh," jelasnya kepada Abang kesayangannya itu.

"Bukan itu--" Afrozak tiba-tiba teringat sesuatu. "oh, keliatan jelas banget ya?" lanjutnya.

Arkesh dan Karang mengangguk. "Tadi bang Rojak keliatan jagain Puspista banget."

Kemudian Afrozak makin dibuat bingung dengan analisanya. Dalam batinnya, ia bertanya kepada diri sendiri. "Kenapa Pak Budi bilang seolah-olah gua gak merhatiin Puspista? Padahal jelas gua udah berakting sebaik mungkin biar perasaan asli gua gak ketahuan." Itulah sumber overthinking Afrozak untuk saat ini.

⎙ All right reserved, do not copy.


Jakarta, Agustus 2010.

Meskipun pemuda itu masih tak menyangka tebakan asalnya ternyata benar adanya. Ia tak mau terlihat bingung di depan musuh. Karena bisa jadi karena orang inilah Dacy dan Puspista terluka. "Karena bapak ... orang yang selalu sama Manu, mungkin?"

"Ya itu benar. Tapi saya juga punya sumber informasi terpecaya," balas Pak Budi.

"Siapa?"

"Kamu gak perlu tahu." Bapak Budi kembali berucap. Tadi ia terlihat tak bisa diandalkan saat bersama dengan Manu di tempat les. Kali ini, tatapan mata dan cara bicaranya sungguh seperti agent yang sering dilihat Afrozak dari tv.

Mendengar jawaban itu, Afrozak sangat kesal dan memukul jendela di sampingnya sebagai pelampiasan. "Dua manusia gak bersalah terluka karena informasi gak valid dari sumber gak jelas itu!"

"Gak valid?" Pak Budi menaikkan alisnya, memastikan apa yang ia dengar. "sudah saya bilang, sumbernya terpercaya," tambahnya.

"Oh ya? Kalau begitu kenapa menyentuh Puspista? Dia pacar saya. Gak ada urusan sama Manugalih sama sekali. Beritahukan itu kepada Om Abraham!" jelas Afrozak dengan intonasi penuh penekanan. Pemuda berbahu lebar itu sempat tak menyangka akan berkata sedemikian serius. Apalagi memamerkan Puspista sebagai pacarnya kepada orang yang baru saja ia temui, ini diluar kendali.

"Pacar? Manugalih menyukai perempuan itu dan itu sudah cukup menjadi alasan kami."

"Jadi kalian akan menggangu semua yang disukai Manugalih?"

"Iya, semua. Termasuk kamu, Den."

Pemuda berbahu lebar itu hanya diam setelah mendengar ucapan dari Pak Budi. Ia merasa tak ada gunanya melawan dan menghentikan tradisi keluarga Abraham. Terlepas dari rasa simpatinya kepada Manugalih, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya.

Banyak bicara bukan gaya seorang Afrozak, apalagi ia juga tak ada pemikiran kata yang harus ia ucapkan untuk membalas. Ia ingat, Ibundanya selalu mengajarkan untuk tidak menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya. Maka dari itu, saat mobil yang ia tumpangi sampai di depan komplek, dimana jarak dari sini ke warung cukup jauh, Afrozak meminta berhenti dan turun di sana.

Sebelum turun dari mobil, ia menoleh kepada Pak Budi yang tengah menyeringai puas. "Kenapa memberitahukan hal ini kepada saya?" tanya pemuda itu, membahas mengenai terbukanya identitas asli bodyguard milik Manugalih.

"Agar kamu bisa lebih memperhatikan pacarmu," balas Pak Budi dengan senyuman manisnya di awal. "agar Manugalih tak terus-terusan menyukainya." tambahnya.

Afrozak mengerenyitkan dahi. Setelah mendengar itu, yang ada di pikirannya hanyalah menjaga Puspista dari gangguan keluarga Abraham. Pemuda itu tak mau lagi melihat orang yang memperlakukan dia dengan baik harus berakhir di rumah sakit karena alasan yang sama.

"Pokoknya saya gak akan biarin Om Abraham nyentuh Puspista!" tegas pemuda berumur 17 tahun itu, lalu meloncat keluar dan menutup mobil dengan keras.

"Sebelum itu, kamu harus mengenali siapa musuh dibalik semua ini terlebih dahulu, Afrozak."

Afrozak berjalan kaki melewati rumah demi rumah, perumahan demi perumahan untuk sampai ke warung tempat sepedanya diparkir. Sebenarnya mudah untuk Afrozak meminjam motor kepada teman lama yang berada tak jauh dari tempat ia berjalan, namun niat itu ia urungkan. Pemuda itu sudah terlanjur berjanji kepada bundanya untuk tidak mengendarai motor-motor tersebut.

Setelah lima belas menit lamanya, ia sampai ke warung milik Arkesh. Hanya ada dua orang yang Afrozak temui; Arkesh dan Karang yang tengah mengobrol berdua.

"Bang? Lama amat. Udah mau jam 7 malam loh." Arkesh bingung melihat Afrozak yang langsung duduk selonjoran ketika sampai di warung.

"Main ke rumah cewek sampe malam. Karang boleh nethink gak, Bang?" Imbuh Karang dengan senyum menggoda pemuda berbahu lebar itu.

Afrozak tak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya. Apa yang terjadi hari ini benar-benar diluar kendali.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (19) : MASIH PAK BUDI.




⠀


#kaitokid Halo, yang mau minta ajarin type oc, slooc, parlok, ataupun au, bisa ke @Seokjin_robot. Nanti saya ajarin sampe bisa.


Jakarta, Agustus 2010.

"Tunggu, Zak!" panggil Manugalih. Afrozak yang sudah berada di depan pintu les ini pun menoleh kebelakang. Ia mendapati adanya seorang bapak-bapak dan Manugalih di belakangnya sedang berjalan mendekat.

"Lu kaga bawa motor kan? Bodyguard gua bakal anter lo pake mobil," lontar Manugalih kepada teman dekatnya yang telah datang jauh-jauh untuk memberitahukan hal gila yang dilakukan orang tuanya.

Bapak-bapak yang disebut bodyguard itu bingung, keringat dari pria berumur 30 tahunan itu bercucuran. "Tapi, Den ... kalau tuan tau ini, saya bisa dipecat," lirihnya.

Lelaki dengan rambut agak botak itu berfikir sejenak. Lalu menatap sinis lelaki 30 tahunan yang selalu mengantarnya kemana-mana itu. "Ya jangan sampai tau, Pak!" serunya. Namun bapak-bapak berumur 30 tahunan itu masih enggan menuruti perintah Manu. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan Tuan Abraham bila tahu tentang ini.

"Udah, Pak. Anter aja si ndowe ini!" Manugalih mendorong punggung Bodyguardnya itu, sedangkan pandangan matanya mengarah kepada Afrozak yang daritadi hanya menyimak.

Pemuda berbahu lebar itu sadar Manugalih menatapnya, ia pun menaikkan satu alisnya ke atas sebagai tanda tanya kepada pemuda berambut agak botak di hadapannya. "Anggep aja ucapan makasih karena lu udah ngasih tau gua," ungkap Manugalih lalu pergi dari pandangan Afrozak.

"Tapi gua tetep marah sama lu yeeee!" goda Afrozak kepada teman dekatnya yang sedang berjalan menjauh itu. Manugalih pura-pura tak mendengarnya dan kembali memasuki ruangan les yang tadi ia tinggalkan.

Tak lama, Afrozak merasa punggungnya ditepuk oleh seseorang yang tak lain tak bukan ialah bapak bodyguard keluarga Manugalih. "Den, mobilnya sudah siap." ucap bodyguard itu dan menuntun Afrozak untuk masuk kedalam mobil.

---

Di tengah perjalanan menuju warung milik Arkesh, antara Afrozak dan pak bodyguard yang bernama Budi itu hanya diam. Terpampang jelas di wajah Pak Budi bahwa ia merasa terbebani dengan perintah dari tuan mudanya tadi.

Afrozak jadi merasa tak enak dengan situasi ini. Pasalnya ia merasa menjadi beban atau mungkin saja menjadi alasan orang tua tak bersalah itu nantinya dipecat. Oleh karena itu, ia berniat menggoda pak Budi yang sedang menyetir dengan penuh keringat itu agar suasananya tak terlalu canggung.

"Ternyata selama ini bapak yaaa?" goda Afrozak sambil menatap kursi sopir di depannya.

Pak Budi hanya melirik Afrozak melalui spion dalam mobil. Wajahnya penuh tanda tanya, tak mengerti dengan ucapan Afrozak. Namun juga terlihat kebingungan.

Afrozak sedikit terkekeh melihat reaksi sopir mobil itu. "Saya mah bisa nebak, Pak. Jujur aja sih, bapak kan yang cepuin crushnya Manu ke Om Abraham?"

Lelaki berumur 30 tahunan itu tak merespon apa-apa, hanya diam. Melihatnya bersikap serius seperti itu sudah cukup menghibur Afrozak. Entah kenapa ni lelaki tua agak lucu, batin pemuda itu.

Setelah di rasa tak ada jawaban dari yang ia ajak bicara, Afrozak akan berkata bahwa tuduhan itu hanya godaan. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Orang-orang yang ia goda hanya marah sebentar kemudian tertawa bersamanya. Tujuan Afrozak menggoda dengan tuduhan ini agar ia bisa tertawa dengan Pak Budi.

"Tapi bo--"

"Iya, tau dari mana?"

Pertanyaan dari Pak Budi sukses membuat Afrozak tercengang. "Gua bercanda, anjing??" gerutu pemuda berbahu lebar itu dalam hati.

⎙ All right reserved, do not copy.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (18) : PAK BUDI.




⠀




Hot news, channel ini udah aktif lagi. BTP chapter 18 di up besok malam. Seperti biasanya, update tiga kali seminggu👍 itu aja, TIA.


Halo.




#kaitokid; Warm greetings to all these lovely creatures who read this. Because mun is busy in real life so mun decided to go on hiatus. Please, don't unsubs this channel. Thank you.




Jakarta, Agustus 2010.

Afrozak mengantar pulang Puspista bukan semata-mata karena ia khawatir pacarnya akan kesusahan menyetir. Pemuda berbahu lebar itu tahu betul bahwa luka kecil di tangannya tidak akan menganggu.

Puspista adalah perempuan kuat yang bulan lalu bisa menonjok kakak kelas lelaki menggunakan tangan kosong hingga lelaki itu tersungkur. Bahkan Puspista masih bisa berkali-kali memukul Afrozak dengan kekuatan penuh saat sikunya terluka, tadi.

Perhatian Afrozak yang ia tunjukkan di warung beberapa waktu lalu dan modus mengantar Puspista pulang dengan embel-embel khawatir, semua itu ia lakukan agar bisa sampai sini dan memberitahu kepada Manugalih mengenai pengawal suruhan bapaknya yang menabrak Puspista.

"Hah!? Puspista ditabrak? Terus Puspista nya gak papa?" Manu syok setelah mendengar Afrozak menceritakan semuanya.

"Syukur cuma luka kecil. Tapi gue gak jamin kedepannya gimana," balas pemuda berbahu lebar yang sudah jauh-jauh pergi Rowoon City untuk bertemu dengan Manu yang tengah les itu.

Manu menghela nafas lega mendengar jawaban Afrozak. Kemudian ia mengerutkan alis tanda bingung. "Gimana lo bisa tau itu pengawal suruhan bapak gue? Bisa aja orang awam yang--"

"Haha, Nuk. Kenapa masih gak yakin? Pengawal itu pernah nabrak Dacy sampe koma loh. Gua hafal muka mereka," Afrozak terkekeh. Punggungnya ia tempelkan di tembok, kakinya ia tekuk dan wajahnya ia tolehkan kepada pemuda pendek di sampingnya.

"Gue gak tahu apapun soal itu."

"Lo keliatan jelas suka sama si Puspista kali, Nuk. Gua sama Adit aje udah tahu itu. Apalagi bapak lo?"

"Gue udah nutupin sebisa gue dan gue gak nyangka bakal ketahuan lagi, Jak. Sorry." Manu menutup mukanya dengan kedua tangan. Nada bicaranya sayu, badannya ia turunkan hingga posisinya menjadi duduk.

Afrozak masih tetap dengan posisinya, menatap Manu yang tengah terduduk di sampingnya dengan kepala yang ia tumpukan pada tangan.

"No. Jangan minta maaf ke gua. Gua gak masalah lo suka siapapun, meskipun posisinya Puspista itu pacar gua. ..." Afrozak menjeda ucapannya. Ia sedikit kesal mengingat fakta bahwa lagi-lagi Manugalih menyukainya wanita yang dekat dengannya. Namun, ia mencoba meredakan amarahnya itu.

"Yang pasti jangan sampai keluarga lo tau tentang cewe yang lo suka. Gua mohon sama lo, Nuk. Please jangan libatin cewek gak bersalah lagi," jelas Afrozak.

"Gue--"

"Gua udah sulit buat maafin lo di kejadian Dacy kemaren. Kalo sampe Puspista yang kali ini kena, gua gak akan maafin lo, Nuk. Kontrol perasaan lo!" seru Afrozak dengan nada bicara yang seperti marah.

Manugalih hanya diam. Afrozak tahu betul bahwa penguntitan dan tabrakan ini lagi-lagi di luar kendali Manugalih sendiri. Wajar bila Manu syok kejadian seperti ini terulang lagi. Pemuda dengan rambut agak botak itu hanya korban dari keeegoisan keluarganya.

Ia dituntut untuk selalu sempurna di akademik. Sedangkan dilarang untuk menyukai siapapun ialah hukuman karena Manugalih mengambil jurusan IPS sekaligus agar kedepannya tak mempengaruhi karir politik Pak Abraham selaku Bapak Manugalih yang hidupnya didedikasikan sebagai anggota dewan yang hanya mau namanya bersih dan menuntut anaknya ikut andil dalam pembersihan itu.

Kemudian Afrozak berjalan keluar dari rumah itu. Saat langkahnya berada di depan Manugalih, ia berhenti. "Dan gua masih gak nyangka lo punya nyali buat suka sama cewek lain. Sedangkan Dacy sendiri masih sulit bertahan di sekolah ini karena lo, Manugalih."

⎙ All right reserved, do not copy.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (17) : ABRAHAM.




⠀


Jakarta, Agustus 2010.

"Thanks udah nganterin gua," ucap Puspista lalu meminta kunci sepeda motornya kepada Afrozak dengan wajah datar. Lalu ia masuk dengan membawa sepeda motornya kedalam bagasi rumah tanpa berkata apa-apa.

Afrozak bingung. Apakah Puspista kesal karena tadi Afrozak mengacaukan posisi ambigu dengan bertanya alamat rumah atau karena persoalan bahwa dia tahu tentang tabrakan itu? Yang pasti, kedua hal itu sama-sama tidak bisa diberitahukan kepada Puspista.

Puspista kembali lagi menghampiri Afrozak. "Lo ati-ati pulangnya," lontarnya. Masih dalam wajah yang cemberut. Kali ini ia terlihat lebih kesal daripada tadi.

Bahkan Puspista tidak terfikirkan Afrozak akan pulang naik apa sekarang ini. Pasalnya, dia mengantar Puspista pulang dengan sepeda motor milik Puspista.

"Gitu aja? Gak nanya lagi?"

"Ha? Apaan? Gak deh!" balasnya. Puspista pun berbalik untuk menutup pagar rumah.

Afrozak mendapat ide. Saat pagar hampir tertutup dan membuatnya kehilangan kesempatan berbicara. Ia pun menarik tangan Puspista. "Tunggu dah? Gua kan udah kasih tau ke lu alasan kenapa gua bisa tahu tabrakan itu. Masa masih marah?"

Puspista mengerutkan alis tanda tak percaya. "Hah!? Kapan?"

"Tadi di motor."

"Gak denger."

"Salah sendiri gak denger. Pokoknya gua udah ngasih tahu lu."

"Kapan sih?" Puspista masih kekeh bertanya. Wajahnya dipenuhi tanda tanya, masih belum percaya dengan kebohongan Afrozak.

"Pas perjalanan ke kompleks rumah lo. Lo ngelamun ye?"

Puspista tak menjawab, ia malah berkeringat dingin. Perempuan dengan jaket biru itu sangat terkejut karena merasa bahwa Afrozak memergokinya tengah melamun di sepanjang perjalanan tadi. Masalahnya, yang Puspista lamunkan ialah hal-hal kotor yang nyatanya tidak terjadi. Sekarang ia merasa sangat kesal karena pernah berfikir bahwa Afrozak mau menciumnya.

"Kalo gua cowok, gua manfaatin situasi tadi. Orang ini malah ngejauh!!!" batin Puspista sambil menatap sinis kepada pemuda berbahu lebar di hadapannya.

Afrozak menggoyangkan bahu Puspista hingga pacarnya itu sadar dari lamunannya. "lu mikirin apaan? Kalo soal kejadian di depan bundaran--"

Merasa kesal karena Afrozak membahas ciuman gagal itu sekaligus menyesal karena tidak mendengar penjelasan Afrozak di motor. Puspista tidak tahan lagi. Ia menjewer telinga Afrozak dan menarik telinga itu mendekat ke bibirnya. "GUA KAN GAK DENGER KARENA ANGINNYA KENCENG!" bentak Puspista, pas di telinga Afrozak.

BRAK!!!

Kemudian Puspista langsung menutup pagar rumah dan berlari masuk. Sedangkan Afrozak yang telinganya berdenging seusai terkena teriakan itu, masih terhuyung-huyung di depan rumah. "Gila, mirip banget sama Bunda!" celotehnya.

Afrozak yang masih syok dengan teriakan Puspista itu pun memilih segera berjalan kaki keluar kompleks. Tenang. Pemuda berbahu lebar itu tidak berniat untuk berjalan kaki hingga sampai ke warung Arkesh. Terlalu jauh dan menyita waktu, fikirnya.

Pemuda dengan bahu lebarnya itu pun melangkahkan kakinya ke kawasan pasir putih yang letaknya jauh dari pintu keluar Rowoon City. Afrozak berhenti di depan rumah besar yang terdengar ramai. Dengan senyuman manis sebagai topeng, ia masuk ke dalam sana dan langsung menemukan seseorang yang ia cari.

"Halo, Nuk!" sapanya sambil mengangkat tangan.

Seluruh orang yang berada di ruangan itu pun menoleh. Begitupun dengan Manugalih yang bingung dengan keberadaan Afrozak di tempat lesnya. "Lo ngapain kesini?" tanyanya dengan alis mengkerut.

Afrozak tersenyum. "Ah, lo kaya gak tau aja ...."
"gua kan abis nganterin pacar gua. Sekaligus mergokin penguntitnya."


⎙ All right reserved, do not copy.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (16) : BOHONG.




⠀


Jakarta, Agustus 2010.

Kini sepeda motor milik Puspista yang tengah dikendarai oleh Afrozak sudah memasuki kawasan townhouse yang bernama "Rowoon City". Kompleks tempat tinggal Puspista memang sangat luas tempatnya. Begitu masuk, mereka berdua disuguhi oleh bundaran yang terletak setelah jembatan berwarna putih sebagai gerbang awal.

Meskipun sudah berada di dalam kawasan "Rowoon City", mereka disuguhi lagi dengan penampakan berbagai kawasan lain di sisi kanan dan kiri. Yang tertulis di setiap kompleks perumahan tersebut ialah "1A", "1B" dan seterusnya.

Afrozak menebak dalam batinnya, "Ini mah gua rasa bakal sampe huruf Z." Dilihat dari kawasan kompleks yang sangat luas hingga tak terlihat ujungnya sama sekali, Afrozak sangat yakin dengan tebakannya itu.

Setelah melewati jembatan putih tadi, Afrozak memberhentikan motornya di depan bundaran yang hanya diisi oleh bunga. Ia bertanya kepada sang pemilik motor yang berada di belakangnya, "Ini rumah kamu yang mana?" tanyanya.

Yang ditanyai itu hanya diam dan hanya menunjukkan bibir yang dimanyunkan sebagai jawaban. Tangannya masih memeluk lelaki bernama Afrozak dengan erat. Sepertinya Puspista tak sadar bila ia melakukan itu.

20 detik terlewat. Puspista tetap dalam posisinya dan tetap diam. Ia lakukan ini sebagai gertakan agar Afrozak mau menjawab pertanyaannya tadi. "Kenapa dia bisa tahu kalau gua ditabrak orang? Apa jangan-jangan si Rojak ini detektif muda kaya Heiji yang lagi nyamar sebagai siswa biasa?" gumam Puspista.

Afrozak yang mendengar itu, hanya menghela nafas panjang dan mengusap muka tampannya sebagai tanda frustasi. Ia berniat memanggil Puspista dan bertanya sekali lagi. Namun niat itu ia urungkan setelah merasakan nikmat dari pelukan yang semakin erat dari Puspista.

"Sekali lagi gua tanya, rumah lu dimana? Kalo kaga jawab, tinggal di rumah gua aja. Toh lo kan suka ndusel di gua. Nanti kita--"

"OGAH!!" Puspista yang mendengar perkataan Afrozak itu pun segera melepaskan pelukannya. Sekaligus memukul bahu lebar pemuda di depannya.

Afrozak terkekeh. "Lagian apaan dah pake acara ngambek tapi meluk? Yang konsisten coba. Ngambek beneran itu langsung pulang sendiri. Lah ini? Meluk-meluk kaya gak mau pulang maunya digoyang," celotehnya sambil berbalik menghadap sang pacar setelah selesai menjagang motor.

"Terus kalo gitu motor gua dikemanain!!?"

"Kan bisa ngusir gua dulu buat ngambil motornye. Terus gasss bremmm dah lu pulang sendiri." Afrozak menjelaskan dengan tangannya yang ikut memperagakan dan menunjuk-nunjuk kompleks di sekitarnya.

Puspista mengangguk-angguk paham dengan menunjukkan senyum palsunya kepada pemuda berbahu lebar di hadapannya. "Oh, oke. Sekarang aja gimana!?" Ia pun mendorong Afrozak untuk turun dari motor dengan kedua tangannya.

"Bercanda doang, Bos! Ampun dah ampun!!?!" lontar Afrozak sambil berusaha memegang kedua tangan Puspista agar berhenti mendorongnya.

Bukannya membuat Afrozak terjatuh. Jarak dari keduanya malah semakin dekat. Ini semua karena Afrozak berhasil memegang kedua tangan Puspista dan Puspista yang berusaha melepaskan itu hingga tanpa sadar jarak mereka semakin dekat. Pemuda berbahu lebar itu bahkan bisa mencium kening Puspista bila bergerak 5cm saja.

Situasi yang sepi, satpam yang berada jauh di sana dan posisi ambigu mereka berdua. Sejenak situasi itu membuat pikiran Afrozak tercemari. Apalagi Puspista terlihat sangat cantik dan mungil dari dekat. Dan untuk pertama kalinya, jantung Afrozak berdegup kencang karena Puspista.

Detakan itu sama seperti saat ia menatap wajah Sooya setelah kejadian di UKS beberapa bulan lalu.


⎙ All right reserved, do not copy.


ㅤㅤㅤㅤㅤ
#SMA (15) : HUG.




⠀

Показано 20 последних публикаций.

1 913

подписчиков
Статистика канала