Jakarta, Agustus 2010.
Meskipun pemuda itu masih tak menyangka tebakan asalnya ternyata benar adanya. Ia tak mau terlihat bingung di depan musuh. Karena bisa jadi karena orang inilah Dacy dan Puspista terluka. "Karena bapak ... orang yang selalu sama Manu, mungkin?"
"Ya itu benar. Tapi saya juga punya sumber informasi terpecaya," balas Pak Budi.
"Siapa?"
"Kamu gak perlu tahu." Bapak Budi kembali berucap. Tadi ia terlihat tak bisa diandalkan saat bersama dengan Manu di tempat les. Kali ini, tatapan mata dan cara bicaranya sungguh seperti agent yang sering dilihat Afrozak dari tv.
Mendengar jawaban itu, Afrozak sangat kesal dan memukul jendela di sampingnya sebagai pelampiasan. "Dua manusia gak bersalah terluka karena informasi gak valid dari sumber gak jelas itu!"
"Gak valid?" Pak Budi menaikkan alisnya, memastikan apa yang ia dengar. "sudah saya bilang, sumbernya terpercaya," tambahnya.
"Oh ya? Kalau begitu kenapa menyentuh Puspista? Dia pacar saya. Gak ada urusan sama Manugalih sama sekali. Beritahukan itu kepada Om Abraham!" jelas Afrozak dengan intonasi penuh penekanan. Pemuda berbahu lebar itu sempat tak menyangka akan berkata sedemikian serius. Apalagi memamerkan Puspista sebagai pacarnya kepada orang yang baru saja ia temui, ini diluar kendali.
"Pacar? Manugalih menyukai perempuan itu dan itu sudah cukup menjadi alasan kami."
"Jadi kalian akan menggangu semua yang disukai Manugalih?"
"Iya, semua. Termasuk kamu, Den."
Pemuda berbahu lebar itu hanya diam setelah mendengar ucapan dari Pak Budi. Ia merasa tak ada gunanya melawan dan menghentikan tradisi keluarga Abraham. Terlepas dari rasa simpatinya kepada Manugalih, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatannya.
Banyak bicara bukan gaya seorang Afrozak, apalagi ia juga tak ada pemikiran kata yang harus ia ucapkan untuk membalas. Ia ingat, Ibundanya selalu mengajarkan untuk tidak menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya. Maka dari itu, saat mobil yang ia tumpangi sampai di depan komplek, dimana jarak dari sini ke warung cukup jauh, Afrozak meminta berhenti dan turun di sana.
Sebelum turun dari mobil, ia menoleh kepada Pak Budi yang tengah menyeringai puas. "Kenapa memberitahukan hal ini kepada saya?" tanya pemuda itu, membahas mengenai terbukanya identitas asli bodyguard milik Manugalih.
"Agar kamu bisa lebih memperhatikan pacarmu," balas Pak Budi dengan senyuman manisnya di awal. "agar Manugalih tak terus-terusan menyukainya." tambahnya.
Afrozak mengerenyitkan dahi. Setelah mendengar itu, yang ada di pikirannya hanyalah menjaga Puspista dari gangguan keluarga Abraham. Pemuda itu tak mau lagi melihat orang yang memperlakukan dia dengan baik harus berakhir di rumah sakit karena alasan yang sama.
"Pokoknya saya gak akan biarin Om Abraham nyentuh Puspista!" tegas pemuda berumur 17 tahun itu, lalu meloncat keluar dan menutup mobil dengan keras.
"Sebelum itu, kamu harus mengenali siapa musuh dibalik semua ini terlebih dahulu, Afrozak."
Afrozak berjalan kaki melewati rumah demi rumah, perumahan demi perumahan untuk sampai ke warung tempat sepedanya diparkir. Sebenarnya mudah untuk Afrozak meminjam motor kepada teman lama yang berada tak jauh dari tempat ia berjalan, namun niat itu ia urungkan. Pemuda itu sudah terlanjur berjanji kepada bundanya untuk tidak mengendarai motor-motor tersebut.
Setelah lima belas menit lamanya, ia sampai ke warung milik Arkesh. Hanya ada dua orang yang Afrozak temui; Arkesh dan Karang yang tengah mengobrol berdua.
"Bang? Lama amat. Udah mau jam 7 malam loh." Arkesh bingung melihat Afrozak yang langsung duduk selonjoran ketika sampai di warung.
"Main ke rumah cewek sampe malam. Karang boleh nethink gak, Bang?" Imbuh Karang dengan senyum menggoda pemuda berbahu lebar itu.
Afrozak tak menjawab, ia masih sibuk dengan pikirannya. Apa yang terjadi hari ini benar-benar diluar kendali.