s t a r x i è s ˚ ༘✶


Гео и язык канала: не указан, не указан
Категория: не указана


Tinta penaku tertuang di atas kertas kosong nan lusuh,
entah tau siapa tuannya, namun aksara demi aksara membentuk sebuah kalimat penuh makna.
© starxiès, @galaxiesstbot.

Связанные каналы

Гео и язык канала
не указан, не указан
Категория
не указана
Статистика
Фильтр публикаций




Aku dan kamu,
hanya memainkan peran masing-masing di sebuah dialektika romansa.
Kamu dengan segala juta pesona,
aku dengan seluruh rasa yang terkesan sederhana.

Memang seharusnya aku tak pernah berharap lebih,
kepada lelaki dengan pesonanya yang melebihi keindahan sang buana.
Semesta pun seolah mendukung,
perihal aku yang seharusnya tahu diri,
bahwa kamu sangat tinggi hingga aku sulit menggapainya.

Pada akhirnya,
rasa ini harus dikubur di dalam relung hati.
Lalu melupakan fakta bahwa aku pernah jatuh cinta,
kepada seorang laki-laki yang diksinya tak pernah aku pahami.

Sebab diksinya penuh teka-teki,
sehingga terlalu rumit untuk aku rangkai dengan diksiku sendiri.

— starxiès.




Ketika benda tajam itu berada dalam kondisi terburuknya, ketika pengaruh koktail ilegal sepuluh mil berhenti bekerja, saya akan mati rasa seolah telah meninggalkan dunia. Saya bergerak tanpa sadar, dengan anggota tubuh yang berat, seperti zombie dari film horor. Saya merasakan sakit yang begitu dahsyat dan terus-menerus dalam diri saya.

Saya tergoda untuk mengambil pisau di dapur, disusul berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit memikirkan runcingan pisau yang akan memberikan tanda indah pada diri saya dan mengimpikan semua khayalan bodoh kebahagiaan yang saya idamkan.

Disusul dengan teriakan monster berbayang hitam, saya menjerit diikuti oleh ilusi. Satu goresan tercipta, namun sepi itu pun tak hilang jua. Hingga beberapa goresan pun muncul bak ukiran pada kayu jati yang terlihat elok rupanya.

Saya tertawa miris perihal takdir yang tak pernah mengerti arti harsa sebenarnya, saya menangis dalam sudut yang paling menyakiti diikuti oleh darah segar yang indah dipandang. Duniaku hampa, atmaku sepi. Diksiku tak pernah paham lagi perihal pahitnya permainan semesta.

Hingga pikiran itu datang menghujami,
bahwa saya ingin mati.

— deepsea × starxiès.




Malam hari yang sepi nan sunyi, angin malam berhembus menemani lara yang kian menjadi, secangkir kopi pahit pun tak mau kalah tuk menghibur diri, sibuk dengan pikiran yang menyulitkan relung hati.

Dengan bulan sebagai saksi, perihal rindu yang tak pernah tersampaikan kepada sang dayita hati, wicara pun mendadak bisu tatkala ingin mengungkapkan rasa yang kian hari menimbulkan sepi.

Terlalu bimbang antara ingin mengungkapkan tapi terlalu takut kehilangan dirimu, sudah menjalin hubungan lama dengan status sahabat tapi sialnya rasa ini muncul tanpa tahu etika dan waktu.

Aku selalu bertanya apa perhatianmu selama ini karena kau memiliki perasaan yang sama denganku? atau hanya karena status persahabatan kita? ah aku tidak tahu bahkan terlalu berharap dengan hatimu.

Biarlah kita seperti ini, Tuhan tahu jalan yang terbaik untuk kita. Aku harap kau adalah takdirku hingga Tuhan menjemputku.

— starxiès × `alg.




Rasaku terlalu rumit untuk dipahami, hatimu sudah terlanjur mati, tak pernah ada kisah lagi yang bisa terukir abadi, hanya sekedar kenangan yang kian hari muncul di imaji.

— starxiès.




Kau hadir dengan sejuta cerita, menulis kisah suka cita yang tampak nyata, memberi kenyamanan yang terasa menenangkan dibelahan jiwa, mengajarkan aku apa yang dimaksud dengan bahagia.

Tatkala aku rapuh, kau menjadikan dirimu sebagai rumah. Tatkala buana menikamku dari belakang, kau hadir sebagai sosok pahlawan yang melawan semua lara.

Namun seolah semesta tak pernah suka melihatku bahagia walau sedetikpun, ia mengambilmu dariku lalu membunuhku secara perlahan. Disaat dirimulah yang melawan lara itu, pada akhirnya kau jua yang mengembalikan sang lara.

Dan akhirnya,
aku pun mati secara perlahan dengan sajak-sajak indahmu yang terasa menyakitkan.

— starxiès.




Kita terus berlari mengejar sebuah cinta di dunia fana. Jiwa menjadi rapuh karena terlalu cinta kepada karisma sang buana, hati menggelap ditutupi ego semata, cinta pada Tuhan pun sering dilupakan begitu saja, hingga pada akhirnya sang waktu menyadarkan, dan berakhir timbul dengan rasa sesal tak terkira.

— starxiès.




Saya dan kamu memiliki banyak perbedaan, bertengkar sepanjang hari karena sebuah ego yang ditinggikan. Tidak pernah mau mengalah apalagi saling bertukar sapa. Hanya rasa benci yang ditunjukkan antara kita berdua.

Hingga semesta lupa caranya untuk beretika. Ia mendatangkan sebuah rasa yang tak pernah terlintas diotak saya. Buana memberinya sebuah nama yaitu cinta. Imajiku memberontak akan tetapi hatiku berteriak dengan lantang, bahwa ia mencintai lelaki bermata teduh dengan bait sajaknya yang indah.

Nyatanya cinta tak selamanya berpihak dan indah layaknya sajak milik Tuan bermata teduh. Seperti kalimat Tuhan memang satu tapi kita yang tak sama. Kita bertemu, menjalin cinta, tapi ujungnya berpisah jua.

Tolong beritahu,
do’a apa yang harus aku rapalkan pada Tuhan agar kamu paham,
bahwa berbeda bukan hanya tak sama,
tetapi juga tiap kisah yang dirangkai pasti akan berakhir usai.

— renjana × starxiès.




Sukmaku terasa sepi, diksiku terlalu menyendiri, lukaku seringkali menyiksa diri. Aksara demi aksara terangkai rapi membentuk kalimat penuh elegi.

Tuan,
sudah puaskah?
Nestapa sudah menyerah, aku pun sama. Jadi, tolong hentikan sikapmu yang senang menciptakan luka.

— starxiès.




Aku tak ingin terlelap malam ini, aku ingin menemui teduh matamu. Aku ingin menikmati setiap kedipan yang mungkin suatu saat nanti tak dapat ku lihat lagi. Lalu, izinkan aku memandangmu, hingga pagi menjelang.

Sampai tiba pada waktu dimana tak dapat lagi ku dekap erat tubuhmu.
Jika sudah menapaki waktunya, aku ingin mengenangmu sebagai yang teristimewa, sebagai yang terindah.
Entah sebagai pelipur lara atau hanya sebatas imaji, yang aku tahu kamu nyata.

Kamu memang nyata tapi terkadang semesta sering mempermainkanku perihal rasa, seolah-olah kamu hadir hanya sebagai sosok bayangan gelap hasil ilusiku semata. Terlebih senyuman manismu yang tampak nyata, namun kini terasa seperti sebuah fatamorgana.

Diksiku selalu terbentuk sebab kamu selalu menjadi objek utamanya, entah itu perihal rasa suka maupun nestapa, mewakilkan hati ketika aku tak sanggup menyampaikan lewat suara.

Yang kuingin sekarang hanya menghabiskan waktu bersamamu,
Tak ingin melewati setiap detik tanpamu,
Menyulam indah lukisan kenangan denganmu,
Menikmati dahayunya daksamu.

Dayitaku, kehirapanmu sungguh menyakitkan.
Demimu, anala akanku padamkan.
Karenamu, setiap akara akanku tepiskan.
Jadi, tetaplah bersamaku setidaknya sampai maut memisahkan.

Jika suatu saat kamu memilih tuk pergi,
Biarkan aku menoleh ke lembaran memori,
Masuk ke dalam jurang nostalgia tanpa lelah,
Mengingatmu disecarik kertas sebagai aksara yang indah.

— kongguan, starxiès, dan celotehan waktu.




Buana begitu elok terhampar luas, perlahan masuk ke dalam relung hati tanpa sadar, keindahannya sungguh indah nan mempesona, berkilau memanjakan setiap mata memandang.

Tanpa disadari, waktu kian hari semakin berlalu, lalu mengubah dunia yang tak pernah dipikirkan oleh imaji. Meskipun suatu saat waktu menguasai semuanya, persaudaraan sejati tak akan pernah pudar olehnya.

Perihal kenangan mimpi yang bersemi dengan elok, maupun perihal kenangan mimpi yang terhempas di jalanan berlubang, hingga kau hadir sebagai saudara yang memahami segala keluh kesah perihal pahitnya kehidupan.

Kita berasal dari rahim yang sama, sedari kecil sudah terbiasa bersama, memanggil malaikat kita dengan sebutan bunda, setiap hari tak lupa tuk bercengkrama.

Ketika kalbu ini telah lelah, raga pun ingin patah, sukma hampir goyah, namun saudara tetap mendekapku tanpa celah.

Tak peduli lara menikamku, sembilu perlahan membunuhku, dan relikui mengoyak rasaku, tetapi saudara selalu berada disampingku.

Meski jarak bisa menghalangi, rasa sayang takkan pernah pergi, suasana tak bisa berubah jadi sepi, walau rindu berlabuh disini.

— starxiès × celotehan waktu.

Показано 20 последних публикаций.

79

подписчиков
Статистика канала