ㅤㅤㅤ
Hari ini, Senin tanggal 10 Agustus warsa 2009. Gadis bermata cokelat pekat identik dengan netra milik mendiang ibunya itu disibukkan dengan berbagai hal. Tangan kanannya memegang roti yang dibelinya kemarin sore di minimarket dekat rumahnya. Sedangkan tangannya yang lain, sibuk mencari buku pelajaran hari ini.
"Ayolah, kaos kaki kamu dimana?" Nayara menghela napas frustasi, salahnya memang karena tidak mempersiapkan semuanya tadi malam. Salahnya karena menghabiskan waktunya untuk menangis sampai larut. Salahnya karena memikirkan Maraka.
"Mataku pasti bengkak." Nayara bergumam setelah mengingat hal bodoh yang dilakukannya. Dengan tergesa-gesa Nayara memasang sepatu pantofel miliknya, yang sebenarnya sudah saatnya diganti yang baru.
Mempercepat langkahnya menuruni tangga sampai lantai satu dan berlari keluar flat.
"Jangan lari, Neng. Nanti jatuh." Mang Asep, penjual bubur ayam depan flatnya memperingati.
"Buru-buru Mang, nanti telat sayanya."
Berjalan kaki ke sekolahnya tidak akan membuatnya lelah memang, tapi perasaan hampa karena tidak bertemu Maraka seminggu ini membuatnya frustasi.
Gerbang sekolahnya di depan mata, menghela napas lega karena bel belum berbunyi.
"Tumben hampir telat, Neng? Biasanya kan pagi-pagi sekali." Bapak satpam yang yang akrab disapa Mang Diman ini menyapa Yara. Memang sudah suatu kebiasaan, satpam di sekolah ini memang ramah.
"Hehe iya nih Mang, saya telat bangun. Duluan ya Mang, upacara kayaknya bentar lagi dimulai."
"Iya Neng, mangga." Mang Diman tersenyum tulus membuat Yara ikut tersenyum. Pagi ini tidak sepenuhnya buruk pikirnya.
Baru saja beberapa langkah ucapan Mang Diman membuatnya berhenti. "Eh Neng Yara, gak bawa topi ya?"
Ah sial! Sungguh, dia tidak ingin berdiri di barisan murid tidak lengkap dan menjadi perhatian semua orang.
"Eh iya, Mang. Duh gimana nih."
"Pinjam temannya coba, Neng." Nayara ingin menjawab 'Saya tidak punya teman, Mang.' tapi tak jadi karena tidak seharusnya dia bilang begitu.
"Iya juga ya, Mang." Kalimat itu yang keluar dari bibir ranumnya. Gadis itu melangkahkan kakinya lagi, setelah berpamitan pada Mang Diman.
"Kenapa harus ketinggalan sih kamu topi." Nayara bergumam sendiri, memilih pasrah karena tidak mungkin dia kembali lagi ke flatnya. Tidak mungkin juga meminta bantuan temannya, tidak mungkin meminta bantuan Jenandra, tidak juga Nares. Nayara berjalan gontai menundukkan kepalanya.
"Pagi Neng, mana senyumnya?" Hendak mengabaikan suara itu tapi topi di tangan Nares membuat bibirnya menarik sebuah senyuman. Mungkin saja topi itu memang untuknya bukan? Sebab Nares sudah memakai topi di kepalanya. Nayara berlari kecil menghampiri Nares.
Benar dugaannya, topi itu memang untuknya. Pemuda murah senyum itu langsung memasangkan topinya pada Nayara, lalu tersenyum.
"Gue tau lo bakal kelupaan sesuatu kalau datangnya telat. Soalnya lo ceroboh." Pemuda itu benar, dirinya ini ceroboh, sangat ceroboh.
"Kok bisa tau sih? Kamu cenayang ya?"
"Bukan cenayang, tapi gue tau lo banget." Nares tertawa, sebenarnya pemuda itu mendengar percakapan gadisnya bersama Mang Diman tadi. Lalu dirinya buru-buru mencari pinjaman topi demi sang pujaan hati. Dasar bucin!
"Dapat darimana? Kan kamu juga butuh topi?"
"Di ruang osis banyak, Neng." Padahal nyatanya Nares baru saja memaksa Rendi untuk meminjamkan topinya karena temannya itu tidak akan ikut upacara sebab bimbingan OSN. Meskipun harus mengorbankan satu porsi bakso di kantin.
Nayara mengangguk paham, "makasih ya Naren." Seraya menepuk bahu Nares pelan dan tersenyum pada sang adam.
Nares ikut tersenyum, mengusap kepala gadisnya pelan. "Sama-sama, Cantik." Lalu mengerlingkan mata.
"Mulai deh genitnya," sungut Nayara sambil menepis tangan Nares. Sifat genit Naren memang sudah mendarah daging.