🕸 @Speedyeb, Kido A. As pangeran yang dijodohin tapi gamau karna ada yang disuka tapi sama warga
Di kerajaan
Edevan, takdir adalah sesuatu yang ditulis dengan tinta emas—dan tinta emas tak pernah dihapus.
Pangeran Kido, putra tunggal Raja Elmath, dibesarkan dalam bayang-bayang aturan, kehormatan, dan silsilah. Wajahnya sering terlihat di dinding aula kerajaan, di potret resmi bersama para bangsawan, tapi hatinya… selalu berada di luar tembok istana.
Pada hari ulang tahunnya yang ke-19, Raja mengumumkan perjodohan besar. Calon pengantinnya: Putri Leiryn dari Kerajaan Arvane—berpendidikan, cantik, diplomatis.
“Ini akan menyatukan dua kekuatan. Dan kamu akan mencintainya... seiring waktu,” kata Raja.
Tapi Kido hanya diam. Karena setiap malam, pikirannya bukan pada Leiryn. Tapi pada
Rinoa—seorang penjaga perpustakaan desa di kaki bukit, yang pernah menamparnya dengan buku karena mencoba menyelundup ke bagian terlarang. Yang tak pernah menyebutnya "Yang Mulia," tapi hanya, “Kau, anak keras kepala yang sok tahu.”
Kido menyelinap ke desa lebih sering dari yang seharusnya. Bukan untuk kabur, tapi untuk merasa hidup. Ia membantu Rinoa menyortir buku, membersihkan debu, mendengarkan ceritanya tentang langit, sejarah yang diputarbalikkan, dan puisi yang tak pernah disimpan di istana.
Hari demi hari, ia sadar: cintanya tumbuh bukan karena perintah, tapi karena pilihan. Dan pada malam pertunangan kerajaan, ketika semua bangsawan berkumpul dan Putri Leiryn berdiri di sampingnya dengan gaun berhiaskan bintang, Kido melakukan hal yang belum pernah dilakukan seorang pangeran dalam sejarah Edevan.
Ia menolak.
“Aku minta maaf, Ayahanda. Tapi aku tak bisa menikah dengan seseorang hanya karena strategi. Aku telah menemukan seseorang… yang membuatku ingin menjadi lebih dari sekadar mahkota.”
Raja murka. Para bangsawan terkejut. Leiryn tersenyum pahit—ia pun tahu rasa cinta tak bisa dipaksa.
Dan keesokan harinya, Kido melepas jubah kebangsawanannya, berjalan kaki ke perpustakaan, dan berdiri di hadapan Rinoa.
“Aku mungkin kehilangan takhta, tapi aku harap belum kehilanganmu,” katanya.
Rinoa menghela napas. “Kau benar-benar bodoh…” Lalu ia memeluknya. Dan untuk pertama kalinya, Kido merasa menjadi bagian dari cerita yang ia pilih sendiri.