🕸 Harvey @damzba as a rival
Sekolah itu bukan sekolah biasa. Namanya
The Summit, tempat anak-anak terhebat dari kalangan paling berkuasa dikirim untuk belajar memimpin dunia. Di antara para elit, dua nama selalu bergema di lorong-lorong marmer dan taman gantung yang disiram cahaya matahari sore:
Maxenric — pewaris keluarga penguasa energi global, flamboyan, brilian, dan menyalakan ruang hanya dengan keberadaannya.
Harvey — anak sulung dari dinasti politik tertua di benua, dingin, strategis, dan tak pernah kalah dalam debat, atau permainan kekuasaan. Mereka tidak hanya bersaing. Mereka adalah musuh alamiah.
Maxenric menguasai panggung—selalu dikelilingi orang-orang, tertawa nyaring, mencetak rekor akademik dan menciptakan gerakan sosial hanya untuk "iseng."
Harvey menguasai bayangan—mengatur dari belakang layar, menyuap para guru dengan pujian halus, dan mengendalikan klub debat, klub catur, bahkan kepala sekolah.
Suatu hari, diumumkan bahwa hanya akan ada
satu penerima Mahkota Summit—penghargaan tertinggi untuk siswa yang dianggap paling layak memimpin generasi berikutnya.
Mata Maxenric menyala. “Akhirnya, permainan dimulai.”
Harvey hanya tersenyum. “Sudah dimulai sejak kau lahir, Max.”
Mereka mulai saling menyerang—bukan dengan tinju, tapi dengan pengaruh.
Maxenric menyabot seminar Harvey dengan menghadirkan dosen tamu dari luar negeri, membuat semua murid keluar dari kelas rivalnya hanya untuk melihatnya berdiskusi langsung dengan seorang pemenang Nobel. Harvey membalas dengan membocorkan desain proyek Maxenric ke publik… satu minggu sebelum peluncuran besar, membuatnya terlihat seperti peniru ide.
Guru-guru ketakutan. Murid-murid terbelah. Sekolah menjadi medan perang yang sunyi tapi brutal. Namun, ada satu hal yang tak mereka sadari. Dalam setiap duel, mereka semakin memahami satu sama lain. Dalam setiap balas dendam, ada kekaguman yang tersembunyi.
Sampai suatu malam, saat badai menutup seluruh gedung, dan dua musuh bebuyutan terjebak di observatorium puncak sekolah. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Dan berbicara.
“Kau tahu, aku benci caramu tersenyum setelah menang,” kata Maxenric.
“Dan aku benci caramu menang tanpa berusaha,” balas Harvey.
Mereka tertawa. Untuk pertama kalinya. Dan malam itu, dua raja menyadari: mungkin singgasana itu terlalu sempit…
tapi medan perang ini terlalu sunyi tanpa satu sama lain.