Ruang bicaraku tersedia untuk sang dayita hati, tatkala ia membutuhkan aku untuk membagi rasa sepi, bahagia yang menyenangkan diri, hingga nestapa yang datang menghampiri relung hati.
Saya selalu di sini ketika kau membutuhkan sandaran, ketika kau jatuh ke jurang yang curam, ketika buana menikammu dari belakang, dan ketika semesta sengaja menjatuhkan harga dirimu.
Tapi, kenapa kau masih saja berlari tuk pergi? datang dengan seribu harsa namun pergi dengan sejuta luka. Tak pernah terlintas di imaji bahwa sosok aslimu bak iblis yang berhati batu.
Bukannya pamrih atau bagaimana, hanya saja saya tenggelam dalam lautan pesonamu. Hingga saya tak sadar, semakin saya menjelajahi lautan hati Tuan, semakin besar luka serta nestapa yang kau berikan.
— starxiès.