π™ƒπ™žπ™§π™–π™šπ™©π™.


Channel's geo and language: not specified, not specified
Category: not specified



Channel's geo and language
not specified, not specified
Category
not specified
Statistics
Posts filter




"Apa yang kita lakuin setiap hari itu bakal ngejadiin kita 'seseorang'. Hasil cuman efek samping dari itu semua."

Aran menatap Kita, kali ini mereka tengah berjalan bersama ke arah rumah mereka. Pembagian seragam baru saja selesai, dan untuk pertamakalinya Kita mendapatkan seragam miliknya sendiri, lengkap dengan pelatih yang membebankan tanggung jawab sebagai Kapten untuknya saat pertandingan nasional nanti.

Namun, ada yang unik. Dimana setelah menerima seragam, Kita tiba-tiba menangis, seolah melampiaskan kesenangannya melalui tangisan. Aran ingat jelas, sampai-sampai hal itu membuat Suna, Ginjima serta si Miya Kembar terkejut. Bahkan Suna sampai mengatakan, "hah? Kak Kita bisa nangis? Demi apa?!" yang membuat Aran harus melayangkan pukulan pada lelaki bermata sipit itu.

Hah, benar-benar kejadian yang tidak terduga. Bahkan Aran saja sampai tak tahu harus berkata apa.

"Orang dewasa sering banget mikir gitu." lanjut Kita. "Padahal, kita gak perlu numpuin sesuatu cuman pada satu hal. Gueβ€”"

"Hadeuh, Kitaaa!" Aran yang sebenarnya sudah mulai bosan mendengar ceramahan Kita akhirnya menghentikan lelaki itu. Ia berucap, "lo kalo seneng, ya seneng aja! Gausah bertele-tele, loβ€”"

"Hahahaha."

"Hah? Apa yang lucu? Ngapa ketawa?!"

Aran menaikkan alisnya tatkala melihat Kita tertawa selepas itu. Sembari berjalan dan menghentikan tawanya, Kita melanjutkan, "Aran Aran, dengerin gue dulu. Gue belom selesai ngomong, tau."

"Hadeuh, abisnya lo banyak ceramah." ketus Aran. Kita tersenyum, merogoh tasnya dan menunjukkan seragamnya, "gue.. Cuman penasaran aja, Ran. Apa ini juga termasuk hasil dari semua usaha gue selama ini?"

"Ya iya. Lu main voli, itu usaha lu." jawab Aran. "Lu tuh, jangan kaya robot makanya. Pas tadi lu nangis ya, Suna sama Miya Kembar dah kek orang ilang. Aneh banget anjrit, sumpah."

"Masa sih?" Kita terkekeh. "Tapi ya.. Ran. Gue gak akan main voli terus.. Voli bukan satu-satunya kesenengan dan kelanjutkan dalam hidup. Lakuin apa yang lo suka, nikmatin hasilnya."

"Betul, untuk kali ini gue setuju." Aran menepuk bahu Kita. "Dengerin, Shin. Lu bukan robot, lu manusia. Lu berhak nunjukkin ekspresi lu, oke? Jangan kaku gitu ah, jelek lu."

Kita hanya tersenyum, begitupula Aran yang merasa puas. Akhirnya ia tak akan mendengar ucapan kaku dari Kita, setidaknya lelaki itu sudah mulai berusaha menunjukkan ekspresinya. Sekarang, yang ia dan Kita bisa lakukan adalah menikmati voli mereka, di tahun akhir mereka berada di Inarizaki ini.

Yah, walau diam-diam Aran merasa mungkin nanti, ia akan merindukan ucapan Kita yang terdengar datar dan monoton.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - End.


Kita Shinsuke itu ibarat robot.

Hidupnya sangat teratur, sesuai dengan prinsipnya yang dikenal displin. Ia seperti tak mempunyai emosi, bahkan tak pernah sekalipun ia terlihat tertawa, sedih, bahkan tersenyum. Atsumu sendiri bahkan sampai mengatainya "Tuan yang Sempurna Kita Shinsuke" saking sempurnanya definisi hidup Kita. Tak pernah mendapat nilai rendah, selalu jujur, tepat waktu.

Tapi, apakah mereka semua tahu bahwa dulu Kita bahkan tak pernah mendapat seragam Volinya?

Dan.. Apakah mereka tahu bahwa Kita tidak sesempurna itu?

"Woy, ngelamun mulu Shin."

Lamunan Kita terhenti tatkala Aran memasuki ruang klub, melepas jaketnya dan berjalan ke arah lokernya untuk berganti pakaian. Aran menatapnya, "mikirin apa? Lo gapapa?"

Kita hanya terdiam, menggeleng pelan sebelum menunduk dan kembali melanjutkan kegiatan mengasah kukunya. Aran menaikkan satu alisnya heran, namun pada akhirnya ia memilih untuk berganti baju. Hingga, baru saja ia akan menarik bajunya, ucapan Kita menarik perhatiannya.

"Ran, lu takut?"

"Hah?"

"Maksud gue.." Kita melanjutkan ucapannya tanpa menatap Aran, "lu takut karena lu berusaha ngelakuin semuanya diluar batas kemampuan normal lu kan? Ya kaya ibarat makan atau boker.. Kenapa lu harus takut kalau lu terbiasa ngelakuin semuanya dengan normal? Selama hari-hari biasa lu ngelakuin semuanya sesuai kebiasaan lu, gue percaya pas pertandingan nanti, lu pasti bisa ngelakuin itu, sama aja kaya lu lagi main voli."

Aran terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapan Kita. Jujur saja, sebenarnya ia memang pernah bercerita bahwa belakangan ia merasa gugup dan takut karena sebentar lagi pertandingan akan segera tiba. Kita tak memberikan jawaban saat itu, lelaki itu hanya diam menatap jalanan.

Tapi kini, ia menjawabnya. Dan sesuai prediksi Aran, jawabannya terdengar monoton dan normal, layaknya robot yang diperintah.

"Shin, lo kaya robot deh." sahut Aran, kali ini membuat Kita mendongak. "Serius, semua jawaban lu seakan udah tercipta aja di kepala lu. Tapi ya Shin, lu tuh masih manusia, lu punya emosi dan hak buat nunjukkin emosi lu. Gak selamanya lu harus bersikap dingin, lu ngerti kan?"

Kali ini, Kita yang terdiam. Dibanding memikirkan jawaban Aran, ia justru lebih berpikir.. Apakah sudah lama orang "berpikir" bahwa ia memang seperti robot?

"Gue cuman kasihtau aja. Lo masih SMA, Shin. Nikmatin masa SMA lu, nikmatin masa lu di Inarizaki, nikmatin masa lu buat voli." Aran menutup lokerya. Lelaki itu menepuk kepala Kita pelan, "lu gak perlu sekaku itu buat hidup, lu tau?"

Kita masih terdiam. Aran terkekeh dan menarik tangan lelaki itu, "udah gausah dipikirin, mending ke lapangan yuk. Hari ini pelatih mau bagi seragam, sekalian mau ngasihtau pengumuman penting katanya. Yuk!"

Aran pun menarik Kita, membawanya keluar dari ruangan klub menuju ke lapangan. Kita masih berpikir, mencoba mencaritahu apa maksud dari ucapan Aran.

Apa.. Dia memang sekaku itu?

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - 1.


γ…€γ…€γ…€γ…€Robot.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ 




β€” #バックドを


From: jangan dibales.

Samu, nitip pudding dong. Nanti uangnya gue ganti, serius dah.


"Monyet, ujungnya juga dia tetep lupa buat ganti uang gue." Osamu bergumam kesal melihat pesan yang dikirimkan Atsumu kepadanya. Latihan baru saja selesai, dan saat ini Osamu sedang berdiam diri di depan gerbang sekolah. Kebiasaannya untuk menunggu Atsumu keluar kelas, tapi ia lupa bahwa Atsumu sudah pulang duluan karena sakit.

"Lah, belum balik lu Sam?"

Osamu melirik pada Aran serta Kita yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Osamu menggeleng, "belom, gue lupa Atsumu sakit, biasanya kan gue nunggu dia disini."

"Idih, tumben lu mau nunggu dia? Biasanya juga suka duluan." sahut Aran. "Yaudah, balik bareng aja yuk. Keburu malem, mau hujan juga."

"Duluan aja Ran, gue mau beli pudding dulu buat Tsumu. Tuh anak kalo sakit banyak maunya, gak diturutin nanti berisik." tolak Osamu. Kita menatapnya, "pudding? Atsumu mau pudding?"

"Iya kak, kesukaan dia. Duluan aja sama Aran, gapapaβ€”"

"Yaudah, saya sama Aran anterin deh. Gimana?"

Osamu terdiam sejenak, ditatapnya kedua lelaki itu bergantian. Ia bertanya, "gak ngerepotin nih? Rumah kita kan beda bis, nanti kak Kita sama Aran kehujanan lagi gara-gara nunggu terlalu lama."

"Gapapa, saya juga mau beli sesuatu." jawab Kita. Ia melirik Aran, "gapapa kan kita nganterin Samu dulu?"

"Iya, gue mana bisa nolak coba kalo lu yang minta Shin, lagian nih bocil kan tanggung jawab gue sejak kecil." Aran menatap Osamu sinis, yang dibalas tatapan kesal oleh Osamu. Osamu membalas, "maksud lu bocilβ€”"

"Udah, ayo cepetan."

Pertengkaran mereka pun terhenti oleh Kita. Ketiganya lantas berjalan ke arah sebuah minimarket yang kebetulan tak jauh dari sekolah. Osamu masuk terlebih dahulu, disusul oleh Kita serta Aran. Ia langsung berjalan ke arah freezer yang khusus menyediakan pudding.

"Gue gabawa duit lebih, gue beli 5 aja dah." gumam Osamu, ia membuka pintu freezer itu dan memasukkan 5 pudding ke dalam keranjang yang sebelumnya sudah ia bawa. Kita mendekatinya, "udah, Samu? Kok cuman 5? Sedikit banget?"

"Gabawa uang lebih kak, gapapa kok. Besok kan bisa beli lagi pake uangnya Atsumu." jawab Osamu. Kita terdiam sesaat, sebelum akhirnya lelaki itu mengangguk dan berjalan menghampiri Aran yang sedang sibuk menatap jajaran makanan ringan. Dirasa selesai, Osamu lantas berjalan ke arah kasir. Membayar seluruh belanjaannya kemudian mendekati Kita serta Aran.

"Udah belum? Yuk pulang." ajak Osamu. Kita menoleh, "oh, udah kok. Tunggu aja sama Aran diluar, nanti saya nyusul."

Osamu dan Aran bertatapan sejenak, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk keluar minimarket meninggalkan Kita. Osamu berucap, "lu kayanya deket banget ya sama kak Kita, dia juga keliatannya gak galak kalo sama lu."

"Shinsuke emang gak galak. Lu nya aja pada bandel, makanya dia galak. Diluar dari itu dia biasa aja." sahut Aran, membuat Osamu sedikit tersedak. Osamu memukul lengan Aran sembari tertawa kikuk, "hehehe, ampun lah kak Aran. Kita kan temenan dari kecil, masa lu gitu?"

"Jijik banget lu manggil gue pake 'kak'."

"Aran, Osamu!"

Aran dan Osamu menoleh menatap Kita yang keluar dari minimarket dengan dua plastik belanja di tangan. Lelaki berambut kelabu itu mendekati Osamu, memberikan salah satu plastik yang dipegangnya, "ini ya, kasih buat Atsumu."

"He? Apa ini kak?" Osamu terkejut, meraih plastik itu dan melihat isinya. Ada 15 pudding disana.

"Kak, gak usah. Ini kan uang kakakβ€”"

"Bawa aja, gapapa. Bilang ke Atsumu, cepet sembuh ya? Oh iya, yang limanya buat kamu. Anggep aja saya ngasih." sela Kita dengan senyuman. "Sekarang kamu pulang duluan, takut hujan. Hati-hati ya Osamu?"

"E-Eh.. Iya kak. Makasih banyak ya kak!"

Osamu membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk terimakasih, kemudian berjalan ke arah halte sembari memegang erat kedua plastik pudding di tangannya. Diam-diam ia tersenyum.

"Atsumu ga boong pas dia bilang kak Kita kalo senyum tuh manis. Emang beneran manis, anjir."

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - End.


"Tsumu, lo yakin mau latihan? Lo sakit gitu, anjir."

Atsumu mengusap hidungnya yang memerah, sambil sesekali membenarkan letak syal yang dipakainya. Kepalanya agak sedikit pening, tetapi ia tidak peduli. Hari ini ia harus tetap latihan seperti biasa.

"Bawel lu, Samu. Udah gapapa, gue harus tetep latihan." jawab Atsumu. Osamu mengerutkan keningnya, "gue cuman nanya? Sensi banget lu. Yaudah sih, kalo lu pingsan juga gue ogah angkat lu ya."

Atsumu tak menggubris, ia berjalan masuk ke dalam ruang klub, mengganti pakaiannya dan langsung berlari ke lapangan diikuti oleh Osamu. Sudah ada Suna, Ginjima, Akagi serta Ren disana. Bersiap melakukan pemanasan sembari mengobrol santai.

"Aran mana?" tanya Osamu. Ginjima menunjuk ke arah gudang, "lagi ngangkat barang sama kak Kita. Eh btw, Tsumu ngapa lu pucat gitu dah? Sakit lu?"

"Menurut lu?" balas Atsumu sembari melepas jaketnya. "Gue enggak sakitβ€”"

"Lo bersin, muka lu merah, kurang nunjukkin kalo lo sakit?" tanya Suna malas. Atsumu melirik sinis kepada Suna, "yaterus kenapa? Pokoknya gue harus tetep latihan!"

"Hebat, voli tetep nomor satu ye Tsumu!"

"Pulang Atsumu, kamu sakit."

Ginjima, Suna, Atsumu serta Osamu sontak menoleh pada Kita yang tiba-tiba datang bersamaan dengan Aran yang kini sibuk memasang net. Kita melanjutkan, "jangan kasih pujian buat orang sakit, Gin."

'Buset.. Jadi gue salah nih?' batin Ginjima, tubuhnya menegang seketika. Suna dan Osamu yang ada di belakangnya mengeratkan jaket mereka, "aduh, ngapa mendadak dingin gini ya Sun?"

"Au dah, bisa bikin masuk angin ini mah."

"Bangsat." Atsumu mengumpat secara tidak sadar, ia meraih jaketnya kemudian berjalan dengan kesal meninggalkan lapangan ke arah pintu keluar. Aran mendekati Kita, "Shin, lu yakin tuh anak gak akan marah?"

"Enggak, tenang aja." Kita menggeleng. Ia menatap anggota lain, "yuk sekarang yang lain siap-siap latihan."

Para anggota lain pun mengangguk, bersiap untuk latihan. Sementara di lain tempat, Atsumu masih berjalan kesal ke arah ruang klub, membuka pintunya dengan kasar dengan nafas terengah menahan kesal.

"Kan bisa dia bilangnya baik-baik, ngapa sih anjing?!" Atsumu membuka sepatunya dengan kasar, berjalan ke arah lokernya untuk mengganti pakaiannya. Namun, ketika melihat ke arah kursi, ada sebuah plastik berisi acar, makanan ringan serta minuman disana. Tertera juga sebuah kertas yang bisa Atsumu baca.

Atsumu, istirahat yang baik ya.

-Kita


Atsumu terdiam sesaat, matanya berkaca-kaca seketika. Ia memegangi kepalanya, "ini mah sengaja mau bikin gue nangis, anjrit!"

Lelaki berambut pirang itu mengusap matanya, mendekati plastik itu dan memegangnya erat-erat. Ia berucap, "maaf banget kak tadi gue marah sama lu, gue kesel. Tapi kalo gini.. Gimana gue mau kesel? Ah kak Kita.. Gue mau nangis aja anjir."

Atsumu pun bergegas mengganti pakaiannya, kemudian membawa plastik itu pulang bersama dirinya. Diam-diam Kita melirik dari arah pintu lapangan, senyum tipis terulas di wajahnya.

"Hati-hati, Atsumu. Cepet sembuh ya. Klub sepi gak ada kamu."

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - 1.


γ…€γ…€γ…€γ…€Sick.

β€” #ホーム
γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ 




"Woy, serius amat. Liat apaan?"

Ginjima menempelkan botol air dingin yang dipegangnya pada pipi Suna, membuat Suna tersadar dari lamunannya. Ia mendudukkan dirinya di sebelah Suna, mengusap peluhnya menggunakan lap kemudian berucap, "gila, udah 3 hari berturut-turut Miya Kembar kena marah kak Kita. Gue sih ogah banget dah urusan sama kak Kita, secara lu tau dia nyereminnya gimana kalo marah."

Suna hanya diam, matanya masih tak lepas dari Kita yang berdiri di dekat net sembari menegur Miya Kembar yang bertengkar karena urusan voli lagi. Harus Suna akui, meskipun Kita tak memukul, kata-katanya tak terdengar kasar dan emosi, tapi auranya benar-benar membuat seisi lapangan menjadi tegang. Bahkan dengan Kita berdiri di lapangan saja, para anggota lain bisa mendadak menurut dan tak bermain buruk.

'Gila, makin susah gue nyaritau kelemahan kak Kita.'

"Aran, gue mau ke kamar mandi bentar. Lu urus mereka berdua."

"Iya, Shin. Santai aja."

Kita pun nampak berjalan menuju keluar area lapangan. Suna berdiri, memberikan botol dan lapnya pada Ginjima yang membuat Ginjima terkejut, "anjing, Suna luβ€”"

"Gue ke wc dulu, nitip bentar Gin."

Suna berjalan agak cepat menyusul Kita yang sudah berjalan lumayan jauh di depannya. Lelaki berambut abu itu masuk ke area kamar mandi, diikuti oleh Suna namun secara perlahan. Tapi, alangkah terkejutnya Suna ketika mendapati Kita terdiam di depan westafel sembari menutup mulutnya. Seakan menahan sesuatu yang akan keluar.

"Kak Kita!" Suna mendekat, membuat Kita terkejut dan menatap lelaki itu. "Lu kenapa kak? Mau muntah? Sakit?"

"Gapapa, Suna. Saya emang lagi agak gak enak badan, kepala saya sedikit pusing." jawab Kita. "Saya mual, tapi gapapa udah ilang kok. Kenapa kamu ada disini? Mau ke kamar mandi juga?"

"Kenapa kak Kita gak bilang kalau kakak lagi sakit?" tanya Suna, mengabaikan pertanyaan yang Kita ajukan padanya. "Pantesan tadi pagi aku liat kak Kita agak pucat. Kenapa maksain latihan sih kak? Pertandingan kan masih lama juga, masih 2 bulan lagi."

"Saya gak mau ngelewatin sesi latihan, Suna. Saya mau yakinin diri saya. Kalau latihan saya sanggup, pasti di pertandingan nanti saya bakal bisa."

Suna terdiam mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kita. Lelaki itu melanjutkan, "saya juga harus mastiin kondisi kalian, mastiin apa yang harus kita lakuin nanti buat pertandingan. Saya emang cuman bakal jadi pemain pengganti, tapi tetep aja saya punya tanggung jawab sebagai Kapten buat merhatiin keadaan kalianβ€”"

"Tapi kak Kita tetep manusia, kak Kita punya batasan."

Kita terdiam. Suna melanjutkan ucapannya, "aku tau kak Kita mau yang terbaik buat kita Semua, tapi kalau kondisi kak Kita kaya gini, gimana mau jadi yang terbaik? Kak Kita sendiri yang bilang, lakuin apa yang biasa kita lakuin setiap hari karena itu bermanfaat buat semuanya. Ini berarti, kak Kita ngelewatin satu hal dalam hidup kak Kita, bermanfaat buat diri sendiri."

Kita masih terdiam untuk beberapa saat, kemudian ia tersenyum dan menepuk bahu Suna. Ia berucap, "iya, kamu bener Suna. Saya terlalu maksain diri saya buat jadi manfaat orang lain tanpa mikirin diri saya."

"Kan, aku udah bilang." Suna menggerutu. "Ayo sekarang kita ke UKS, aku anter. Kak Kita gak usah latihan, tunggu aja sampai selesai. Nanti aku yang bilang sama pelatih, sekalian aku bawa barang kakak."

Kita mengangguk, ia hanya bisa mengikuti ketika Suna membawanya ke ruang UKS. Satu hal yang Suna dapatkan disini mengenai kelemahan Kita.

Ia terlalu bermanfaat bagi orang di sekitarnya.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - End.


Suna berjalan pelan ke arah ruang klub sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sesekali ia bersiul, menatap koridor yang masih kosong mengingat jam masih menunjukkan pukul 6 pagi sementara sekolah baru akan dimulai pukul 8.

"Ah nanti gue beli susu duluβ€”eh! Kak Kita?!"

Pemuda bermata sipit itu sontak terkejut tatkala mendapati Kita yang sudah berada di dalam ruang klub ketika ia membuka pintunya. Kita nampak sudah siap dengan pakaian klubnya, mata cokelatnya menatap Suna datar. Lelaki itu berucap, "kenapa kaget begitu, Suna?"

Suna menepuk dadanya pelan, masih terlalu kaget dengan kehadiran Kita. Biasanya, ialah yang selalu tiba terlebih dahulu. Tapi kali ini ia kalah oleh Kita.

"Ganti baju, Suna. Nanti telat, ditegur pelatih." sahut Kita, lelaki itu berjalan mengambil sapu yang ada di dekat westafel. Suna mengangguk pelan, "i-iya kak, tapi kak Kita udah disini dari jam berapa? Cepet banget?"

"Jam 5? Saya lupa belum bersihin kamar mandi." jawab Kita sembari berpikir. "Emangnya kenapa?"

"E-Enggak kak." Suna menggeleng. Ia melepas sepatunya kemudian berjalan ke arah lokernya, "kak Kita, apa gak capek bersihin fasilitas tiap hari? Maksudnya.. Kan ini bukan tugas kak Kita. Ini tugas petugas kebersihan sekolah."

"Saya cuman ngelakuin apa yang biasa saya lakuin setiap hari, Suna." jawab Kita, kini ia sibuk menyapu lantai yang sebenarnya masih cukup bersih. "Ibarat kita ngelakuin aktifitas sehari-hari, kalau kita ngelakuinnya secara rutin, ini bakal jadi kebiasaan yang baik. Yang nuntun kita buat hidup dengan baik. Kedengerannya sederhana, tapi bermanfaat buat semuanya kan?"

Suna terdiam mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kita. Sebenarnya ia sering kali berpikir, apa alasan Kita melakukan ini semua? Apa ia tidak lelah? Kurang sempurna apa lagi hal yang ia lakukan setiap harinya?

Pikiran Suna jadi tertuju pada satu halβ€”apakah Kita memiliki kelemahan dibalik sifat dan kelakuannya selama ini?

Ah, Suna jadi berharap ia bisa menemukan satu kelemahan Kita, misalnya melihat Kita berbicara dengan nada imut kepada hewan peliharaannya.

"Goblok, mikir apa gue." Suna menepuk pipinya sendiri tatkala ia merasa sudah berpikir terlalu jauh. Buru-buru ia mengganti seragamnya, memakai baju klubnya dan meletakkan tasnya. Ia melirik ke arah Kita, lelaki itu sedang memakai sepatu olahraganya.

"Mau beli susu gak, Suna?" tanya Kita. "Ayo bareng, saya kebetulan belum sarapan."

"Eh, iya kak. Ayo."

Keduanya pun berjalan meninggalkan ruang klub ke arah mesin makanan dan minuman yang berada di sebelah kantin. Kita mengeluarkan dompetnya, menatap Suna, "Suna mau apa? Biar pake uang saya duluβ€”"

"Gak usah kak!" sela Suna. "Pake uang aku aja gapapa, serius."

"Oh, oke." Kita memasukkan uangnya ke dalam lubang uang di mesin, mengambil sebuah roti sandwich serta susu berperisa pisang yang sudah turun dari bagian atas mesin. "Ayo Suna, jangan lama-lama. Jam 7 nanti udah harus pemanasan."

Suna mengangguk, bergegas memasukkan uang ke dalam mesin. Setelah mengambil susu yang diinginkannya, ia berjalan mengikuti Kita dari belakang, kemudian berpikir lagi.

'Kira-kira, apa ya kelemahan kak Kita?'

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - 1.


γ…€γ…€γ…€γ…€Weakness.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ 




β€” #バックドを


"Shin, balik yuk. Gue ngantuk."

"Iya bentar Aran, gue ngambil tas dulu."

Kita bergegas berjalan ke arah lokernya, mengambil tasnya serta sepatunya yang biasa ia gunakan sehari-hari saat di sekolah. Ia baru saja selesai membersihkan ruang loker klub, kebiasaannya yang sebenarnya cukup menguntungkan untuk anggota Inarizaki.

"Lu tadi marahin 3 bocah itu lagi ya?" tanya Aran sembari menatap Kita yang tengah memakai sepatunya. Kita mengangguk, "ya gitu lah. Mereka tuh bandel banget, kadang gue gak ngerti. Tapi mau gimana, gue Kapten. Tanggung jawab gue buat ngasihtau mereka kalo mereka salah."

Aran tertawa pelan, membayangkan Kita yang kelelahan mengurus si Miya Kembar. Bagaimana dengan dirinya, yang sejak kecil sudah mengenal kedua kembar menyebalkan itu?

"Sabar ya Shin, emang ngadepin mereka tuh dah kek ngadepin ujian terberat dalam hidup lu." sahut Aran. Kita berdiri, berjalan ke arah pintu beiringan dengan Aran, "iya. Gapapa, nenek bilang gue harus banyak sabar."

Keduanya pun berjalan di koridor setelah keluar dari ruang klub, nampak suasana sekolah sudah cukup sepi karena jam pulang sudah berakhir 15 menit yang lalu. Sembari berjalan menuju gerbang, Aran berucap, "Shin, menurut lu kalo kita lulus nanti.. Siapa ya yang bakal jadi Kapten?"

"Mm.. Gak tau? Gue belum ada prediksi." jawab Kita. "Tapi entah kenapa gue mikir, kayanya Atsumu deh yang bakal jadi Kapten. Walaupun dia nyebelin, kekanakan, emosian, tapi.. Kemampuan dia gak bisa diraguin. Osamu sama Suna sama aja sih sebenernya, tapi gue yakin mereka gamau ngemban posisi seberat itu."

Aran mengangguk pelan. Kita melanjutkan, "tapi ya siapapun kaptennya nanti, gue harap dia adalah pilihan terbaik yang ditentuin seluruh anggota tim. Gue yakin, ke depannya Inarizaki bakal lebih baik dibawah pimpinan orang yang baik juga. Bener kan?"

Aran mengangguk lagi, kali ini disertai senyuman. Semua orang mungkin mengenal Kita sebagai sosok yang tegas, perfeksionis, jujur, dan stereotip menyeramkan lainnya. Namun bagi Aran, Kita adalah sosok yang menyenangkan, terbuka, serta hangat. Beberapa kali ia sering mendapat masalah, dan beberapa kali juga Kita sering membantunya. Kemampuannya di voli memang biasa saja, tapi kemampuannya sebagai Kapten yang bertanggung jawab atas semua anggotanya lah yang perlu diacungkan jempol disini.

"Shin, coba aja lu kaya gini sama si Kembar terus Suna. Kaget mereka pasti." ucap Aran. Kita mendongakkan kepalanya menatap lelaki itu, "maksud lu?"

"Di mata mereka, lu kan galak, tegas, pokoknya nyeremin. Lah pas sama gue, gak ada nyereminnya sama sekali."

"Hah? Emang gue nyeremin?"

Aran tertawa lepas. Kita Shinsuke memang benar-benar sosok yang polos dan tidak peka. Kita kembali bertanya, "Aran, gue nanya! Emangnya gue galak?"

"Ya coba lu tanya besok sama semua anggota tim deh. Gue gabisa nilai soalnya lu beda banget kalo sama gue." jawab Aran. Diacaknya rambut lelaki bersurai kelabu itu, "yuk ah naik bis, gue mau curhat soal pelajaran nih."

"Ah, gue ga puas sama jawaban lu. Besok gue tanya deh sama anak-anak."

Aran hanya tersenyum, kemudian mereka pun masuk ke dalam bis yang akan membawa mereka pulang. Ditatapnya Kita yang duduk di sebelahnya.

'Gue sebenernya seneng, karena cuman sama gue doang lu nunjukkin sisi lu yang kaya gini, Shin.'

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - End.


Kala itu, matahari bersinar terik menyinari Hyogo, membuat para anggota tim voli Inarizaki yang tengah berlari terus mengucurkan keringat mereka. Padahal biasanya, mereka semua akan berlari dengan penuh semangat. Tapi kali ini, semuanya berlari dengan sangat pelan, bahkan Miya Kembar juga.

"Panas banget anjir, simulasi neraka apa ya?" keluh Atsumu sembari mengusap keningnya yang sudah penuh dengan peluh. Osamu mengangguk, "iya. Biasanya gue semangat pengen ngalahin lu, tapi khusus hari ini gue ngalah deh. Lu boleh duluan Tsumu."

"Boro-boro dah, gue aja gak ada tenaga woy!"

Keduanya pun berlari dengan kecepatan standar, persetan dengan persaingan yang biasa mereka lakukan. Suna mendekati keduanya, "heh, cari jalan pintas yuk? Biar cepet. Gakuat gue sumpah pengen minum."

"Iya, bodo amat dah. Yuk, gue tau jalan pintas sekitar sini." balas Atsumu, sesekali ia melirik beberapa anggota yang ternyata berjarak agak jauh dari mereka. Suna berucap, "santai, kak Kita di paling belakang. Gak akan keliatan."

Merasa aman, Atsumu lantas berbelok menuju salah satu jalan yang biasa ia gunakan jika terlambat. Namun, baru saja akan berbelok, suara teriakan Kita membuat ketiganya berhenti.

"Atsumu, Osamu, Suna, mau kemana? Jangan keluar jalur!"

"Anjing, tadi lu bilang aman?!" umpat Atsumu. Suna mengelak, "sumpah dah Tsumu, tadi udah jauh! Gue aja kaget kok tiba-tiba dia udah deket aja sama kita!"

"Emang lu gabisa dipercaya dah." sahut Osamu. Suna kembali mengelak, "gue serius Samu! Ngapa pada gak percaya sama gue sih anjir?!"

"Atsumu, mau pada kemana?"

Tubuh ketiganya sontak menegang mendengar pertanyaan Kita yang baru saja tiba. "Mau cari jalan pintas? Iya?"

"A-Ampun kak." Atsumu menunduk. "Abisnya, panas banget. Makanya kita mau cepet-cepet balik ke sekolah."

"Iya, saya tau kok ini panas. Saya juga kepanasan, tapi ngambil jalan pintas itu bukan hal yang baik." ucap Kita. "Semuanya juga kepanasan, semuanya juga haus, semuanya juga cape. Kalian jangan kaya gitu, gak adil buat yang lain."

Osamu dan Atsumu menunduk, sembari diam-diam melemparkan tatapan tajam pada Suna. Suna merasa tubuhnya merinding, ia dalam bahaya. Menghadapi satu kembar saja sudah membuatnya gila, kali ini sepertinya ia akan menghadapi dua langsung.

"Udah, sekarang lanjutin larinya. Ayo, bareng sama yang lain." ajak Kita. "Nanti saya traktir lagi minum kaya kemarin, tapi kalian harus janji jangan ulangin lagi, oke?"

"I-Iya kak."

Kita tersenyum tipis, diliriknya anggota tim lain yang sudah mendekat bersamaan dengan mereka. Lantas, ia pun kembali berlari bersamaan dengan Atsumu, Osamu, Suna dan seluruh anggota tim Inarizaki.

"Suna, liat aja lu." ancam Atsumu, membuat Suna kembali merinding. Osamu menambahkan, "gak akan lagi gue ngasih lu contekan Fisika. Awas aja lu."

'Begini amat dah jadi gue.' batin Suna, menyesali keadaannya saat ini.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - 1.


γ…€γ…€γ…€γ…€Summer.

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ 




"Gara-gara lu sih!"

Atsumu menggerutu sembari menatap Osamu yang tengah mengepel area lapangan bersama dengan Suna. Lelaki berambut pirang itu melanjutkan, "kalo aja lu ga ngajak gue berantem, kak Kita gak akan hukum kita bersihin lapangan tau gak?!"

"Yang mancing duluan siapa, anjir?!" balas Osamu tak terima. "Lu kalo gak mancing gue dengan omongan sampah lu itu, kejadiannya gak akan gini!"

"Berisik woy. Mending cepet kelarin, gue ngantuk." sela Suna malas. Atsumu dan Osamu saling mendecih, bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.

"Atsumu, Osamu, Suna. Udah?"

Ketiganya menoleh pada Kita yang masuk ke lapangan dengan plastik berisi 3 botol minuman segar. Kita meletakkan plastik itu di kursi latihan, "kalau belum, besok lagi aja. Sekarang minum, terus siap-siap pulang."

Atsumu, Osamu serta Suna menghela nafas lega. Mereka pun lantas meletakkan peralatan bersih-bersih di gudang, kemudian berjalan mendekati Kita yang sudah duduk di kursi sembari meminum air dari botol yang selalu dibawanya. Atsumu mengambil satu botol, "makasih ya kak, maaf buat kejadian tadi."

"Iya, gapapa." Kita menutup botolnya kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Lain kali, kalau ada masalah, omongin baik-baik. Kamu sama Osamu kan saudara, harusnya bisa dong diomongin sambil ngobrol?"

Atsumu dan Osamu terdiam. Kita mengalihkan pandangannya pada Suna, "Suna juga. Saya percaya loh sama kamu buat handle Miya Kembar semisal mereka berantem terus Aran gak ada. Ginjima jelas gak bisa, dia terlalu gampang panik. Lain kali, lerai mereka. Perkelahian pun bukan hal yang baik untuk diabadikan, ngerti?"

"I-Iya kak, maaf." jawab Suna pelan. Kita tersenyum, "yaudah gapapa, yang penting kalian udah sadar. Sekarang ayo pulang, lampunya mau saya matiin."

Atsumu, Osamu serta Suna mengangguk dan bergegas membawa tas mereka, kemudian berjalan keluar area lapangan disusul oleh Kita. Begitu selesai, mereka pun berjalan bersama menuju gerbang sekolah.

"Kak, rumah kakak kan jauh, apa gamasalah pulang sendiri?" tanya Atsumu. Kita menggelengkan kepalanya, "gapapa, Atsumu. Saya udah biasa."

"Emang kenapa Tsumu? Lu mau nganterin?" tanya Suna iseng. Atsumu mendengus, "apasih lu? Gue kan khawatir! Kak Kita kan biasa pulang sama Aran, sekarang dia pulang sendiri, mana jauh juga. Udah malem ini."

Kita tertawa kecil, untuk kali ini ia tak akan melerai ketiga orang itu. Tak terasa, mereka sudah tiba di halte bis. Kita menatap ketiganya, "bis saya udah dateng, saya duluan ya? Kalian hati-hati di jalan."

"Iya kak, kakak juga!"

Kita pun berjalan masuk ke dalam bisnya, meninggalkan Atsumu, Osamu serta Suna yang masih menunggu bis mereka datang. Suna berceletuk, "kak Kita adem banget ya, tapi kalo marah sadis anjir."

"Iya, makanya gue gamau dah bikin kak Kita marah lagi. Capek." sahut Osamu. Atsumu menyahut balik, "iya, tapi kalo senyum, manis deh."

"Hah?"

Suna dan Osamu sontak menatap Atsumu kaget. Osamu bertanya, "apa tadi lu bilang, Tsumu?"

"Apasih, gak ada siaran ulang, gue bukan acara TV." ucap Atsumu malas. "Yuk dah balik, bisnya dateng tuh."

Suna dan Osamu saling bertatapan sejenak, sebelum akhirnya berjalan mengikuti Atsumu ke dalam bis.

Dan, malam itu pun berakhir dengan pertanyaan di kepala Suna serta Osamuβ€”barusan, Atsumu bilang apa?

β€” #γƒ›γƒΌγƒ γ‚Ήγ‚€γƒΌγƒˆγƒ›γƒΌγƒ  - end.

20 last posts shown.

31

subscribers
Channel statistics